Gus Dur dalam Pena

Puncak Ketauhidan Gus Dur dalam Membela Hak Minoritas

Oleh: Muhammad Autad An Nasher

Toleransi Harus Dijunjung Tinggi//Pelangi Kehidupan Jangan Dinodai//Agama Ada Bukan Untuk Anarki//Cinta Damai Anti Diskriminasi
Tuhan Tak Perlu Dibela//Karena Dia Maha Kuasa//Kritik Caci Tak Menyesakkan Dada//Lawan ataupun Kawan Tak Ada Beda
Islam itu Rahmatan lil ‘alamin//Bukan Hanya Rahmatan lil Muslimin//Mengajarkan Rahmah Bukan Amarah//Suka Berbagi, Fitnah Kan Punah
Yogyakarta, 30-11-2013

Potongan sajak di atas, begitulah kiranya penulis dalam menggambarkan sosok yang nyentrik, unik, dan anti kemapanan. Gus Dur, tiap tahun, kematiannya selalu dirayakan (baca: di-haul-i) oleh berbagai kalangan (komunitas). Tidak hanya dari kalangan pesantren an sich—yang mana notabene beliau dilahirkan dari kaum santri—akan tetapi, pelbagai komunitas hampir di seluruh jagat Indonesia mengadakan acara haul Gus Dur. Baik yang Muslim maupun Non Muslim. Tidak kenal sekat agama, suku, kelas sosial, dan ras.
Peristiwa ini menandakan bahwa kepergiannya di tangisi oleh jutaan umat. Semuanya berduka, sekaligus bangga, mengenang jasa almarhum KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Perjuangan Gus Dur, yang sudah tidak asing lagi adalah membela hak-hak kaum minoritas. Di mana ketika terjadi diskriminasi maupun perilaku yang dapat membelenggu hak-hak minoritas, Gus Dur selalu hadir di garda depan. Semua itu dilakukan dengan penuh keihklasan (tanpa pamrih) dan tak kenal lelah.
Membela kaum minoritas, bukanlah perkara mudah. Nyatanya, pemerintah atau negara, selalu tidak hadir—tak jarang malah angkat tangan dan bungkam—manakala terjadi kasus kekerasan atau diskriminasi yang merenggut hak kaum minoritas. Oleh sebab itu, memperjuangkan hak-hak kaum minoritas bukanlah semudah membalik tapak tangan.
Gus Dur pun pernah menyatakan, “Mereka (kaum minoritas), hanya ingin diperlakukan sebagai manusia. UUD 1945 telah menjamin bagi semua warga negara, tanpa pandangan agama, etnis, ataupun budayanya, ini yang saya lakukan. Falsafah itulah yang kemudian diilhami dalam kehidupan Gus Dur, bahwa hidup harus bisa memberi asas manfaat ke yang lain (Anfa’uhum linnas), ke siapapun itu.

Selain perjuangannya dalam membela kaum minoritas, Gus Dur juga pantang mundur dalam mengusung pluralisme. Bahkan, sebelum kemangkatannya ke Ilahi Rabbi, Gus Dur pernah berpesan, “Saya ingin kuburan saya ada tulisan: Di sinilah dikubur seorang pluralis” (Kompas, 3/1/2010).

Anggap Gus Dur, keragamaan dan perbedaan adalah sunnatullah. Menolak kemajemukan sama halnya mengingkari pemberian Ilahi. Dan juga mengingkari rahmat yang telah digariskan oleh Tuhan. Karenanya, perbedaan mengenai pemahaman atas sebuah ideologi, tidak lantas disikapi dengan melakukan tindak kekerasan. Apalagi dengan mengatasnamakan agama.
Di Indonesia, kekerasan atas nama agama, perampasan atas hak kaum minoritas, diskriminasi terhadap hak kaum marginal, masih sangat rentan terjadi tiap tahunnya. Bahkan, lebih parahnya lagi, fenomena yang sering terjadi tersebut di dukung oleh gelontoran fatwa (sesat) oleh lembaga agama, dalam hal ini; MUI (Majelis Ulama’ Indonesia).

Lembaga agama, yang seharusnya memberikan ketentraman, dan ikut menjaga stabilitas keamanan negara, tak tahunya malah ikut memperkeruh dalam konstelasi hubungan antar umat beragama (intoleransi). Sungguh ironi.
Fatwa sesat yang pernah di gelontorkan oleh MUI, secara tidak langsung, telah mengusir atau menyuruh dengan ‘paksa’ kepercayaan orang lain, kepada apa yang dianut oleh mayoritas. Bila merujuk kepada ayat al-Qur’an, di dalam ajaran agama Islam, tidak boleh ada unsur pemaksaan (QS. Al-Baqarah: 256). Akan tetapi, kenapa tindakan MUI malah terkesan intoleran? Siapakah sebenarnya yang tidak mengikuti ajaran al-Qur’an dan Sunnah Nabi?

Sehingga menjadi risih manakala Islam dipandang sebagai agama yang suka ribut, agama yang suka perang, yang seringkali menampilkan kebringasan. Padahal, ini hanya dilakukan oleh segelintir oknum tertentu. Akan tetapi malah dapat menjadikan citra Islam di mata dunia internasional tercoreng, dicaplah sebagai agama teroris. Agama yang hobi menyesat-nyesatkan orang lain. Ini kan tidak fair!

Dengan demikian, kebringasan yang dilakukan oleh oknum tertentu, justru akan merugikan orang lain. Bahasa lainnya, kekerasan akan memunculkan kekerasan baru. Faktanya, bukan malah surut kasus kekerasan atas nama agama, tetapi malah semakin kentara dan menjamur di tengah kehidupan yang beragam (plural). Kaum radikalis makin hobi menebar teror dengan aksinya, kekerasan.

Mengaca kasus di atas, begitu MUI sering menyematkan kata sesat kepada kelompok tertentu—lebih-lebih kepada kelompok Ahmadiyah dan Syi’ah yang akhir-akhir ini menjadi sorotan—masyarakat pun langsung berbondong-bondong, melakukan anarkisme dan sweping atas nama agama. Masjid disegel, bahkan ada yang dibakar, warga diusir dari tempat tinggalnya. Konflik serta chaos pun tak bisa dihindari. Perilaku radikal semakin mengakar kuat di tubuh umat.

Demikian inilah yang ditentang oleh Gus Dur. Karena dalam pandangan Gus Dur, perilaku tersebut tidak mendidik dan tidak bisa mendewasakan umat. Tujuan utama Gus Dur dalam membela hak-hak kaum minoritas, tak lain adalah ingin melakukan tarbiyah (pendidikan) terhadap kelompok mayoritas, untuk bisa menghargai hak-hak minoritas. Sekaligus menciptakan rasa aman terhadap minoritas. Sehingga bisa mengubah cara pandang masyarakat, agar tidak gampang curiga, apriori, dan penuh syak prasangka (su’udzon).

Di sisi lain, Gus Dur ingin mengembalikan citra Islam sebagai agama rahmat bagi seluruh umat manusia, rahmatan lil ‘alamin, tidak hanya rahmatan lil Muslimin. Rahmat yang cuma dikuasai oleh umat Islam an sich.

Lawan Tirani Mayoritas!
Secara kodrati, sikap tirani terhadap kelompok tertentu sangat menyalahi kemanusiaan. Karena manusia, semenjak dilahirkan di dunia, dihadapkan pada ruang lingkup yang berbeda-beda. Apalagi di Indonesia, begitu kompleksnya budaya, suku, dan agama. Falsafah semboyan Bhineka Tunggal Ika, seharusnya dipegang dengan teguh.

Nabi Muhammad sendiri pernah diperingatkan oleh Tuhan, di kitab suci al-Qur’an dijelaskan dalam QS. Yunus (10): 99, yang berbunyi; “Seandainya Tuhanmu menghendaki, tentu berimanlah semua orang di muka bumi, tanpa kecuali. Apakah engkau (hai Muhammad) akan memaksa umat manusia sehingga menjadi beriman?”. Dalam ayat ini, Tuhan memperingatkan bahwa tugas beliau hanyalah menyampaikan berita (al-balagh) dari Allah, dan beliau tidak berhak, bahkan tidak bisa memaksa orang lain untuk percaya dan mengikuti beliau, betapapun benarnya beliau dan ajarannya itu.

Gus Dur pun mengaplikasikan ajaran al-Qur’an. Dalam pandangan kebebasan beragama dan pembelaannya terhadap kaum minoritas, di mana Gus Dur selalu berada di garis depan. Dan, untuk sampai saat ini, belum ada sosok yang menandingi Gus Dur di Indonesia. Maka sangat wajar pasca wafatnya beliau, banyak yang menangisi kepergiannya. Karena kaum minoritas merasa bila seusai beliau wafat, siapa lagi yang akan memperjuangkan hak-haknya. Siapa lagi yang berani melawan tirani mayoritas selain Gus Dur.

Perjuangan yang tiada hentinya itu tercermin ketika beliau siap dihujat oleh jutaan masyarakat Indonesia, karena tindakannya yang seringkali dianggap kontroversial. Bahkan, Gus Dur pernah diadili oleh para kiai. Atas sikap dan jiwa kesatrianya terhadap membela kaum minoritas itu, nyawa Gus Dur pun siap menjadi taruhan. Demikianlah perjuangan Gus Dur yang tiada duanya menurut hemat penulis. Berani melawan tirani mayoritas!

Dalam pembelaannya terhadap kaum minoritas. Gus Dur pun kemudian mendapatkan penghargaan dari Mebal Valor yang berkantor di Los Angeles. Karena dinilai memiliki keberanian membela kaum minoritas. Salah satunya, beliau wujudkan dalam membela umat beragama Kong Hu Cu di Indonesia dalam memperoleh hak-haknya yang sempat terpasung selama Orde baru.
Perlawanan Gus Dur terhadap kemapanan (status quo) dan tirani mayoritas, yang sering sewenang-wenang terhadap segala tindakannya, hal ihwal itu merupakan buah bentuk upaya Gus Dur dalam melahirkan perdamaian dan rekonsiliasi. Misinya itu terilhami dari apa yang menjadi ajaran agama Islam.

Di dalam Al-Qur’an telah disebutkan: Masuklah kalian ke dalam Islam secara penuh. (QS. Al-Baqarah 2: 208). Menurut Gus Dur, kata itu harus dimaknai sebagai kata sifat, yaitu “perdamaian”. Yang mempunyai makna universalitas nilai. Pemaknaan atau tafsir ini yang mempunyai konsekuensi yang amat penting bagi kebangsaan. Hal ini karena Islam tidak ditilik dari sudut yang sempit, melainkan diteropong dari sudut yang leluasa, terutama dalam konteks keragaman, baik agama, suku, maupun ras.

Ketauhidan Gus Dur
Logikanya jelas, ketika Gus Dur memasuki kandang kucing, bukan berarti kemudian Gus Dur berubah menjadi kucing. Sama halnya ketika Gus Dur membela hak-hak kaum minoritas, seperti Ahmadiyah, misalnya, bukan lantas kemudian agama (keyakinan) Gus Dur itu berubah. Nah, hal inilah yang perlu dipahami oleh masyarakat luas. Jangan berprasangka buruk (su’udzon) terlebih dahulu.

Permasalahan utama yang sering timbul dan menjadi polemik ditengah masyarakat, adalah manakala umat memahami suatu persoalan masih setengah-setengah (parsial), belum utuh. Kemudian sudah main klaim dan hakim sendiri. Apalagi mereka yang merasa pintar. Sedikit-sedikit menyesatkan orang lain.

Prinsip utama mengapa Gus Dur begitu ‘berani’, siap memposisikan diri pada garda terdepan, bahkan nyawanya pun siap dijadikan taruhan tatkala membela hak kaum minoritas, pada hemat penulis, ada dua prinsip utama. Yang pertama, adalah ketauhidan. Ketauhidan bersumber dari keimanan kepada Allah Swt. Dzat yang Maha Cinta Kasih. Oleh sebab itu, Gus Dur tidak takut kepada siapapun, kecuali kepada Dzat yang mengatur kehidupan di jagat raya ini. Tindakannya yang dianggap kontroversial oleh jutaan orang pun, Gus Dur tak ambil pusing. Malah ditanggapinya dengan enteng, gitu aja kok repot.

Kedua, humanisme. Memanusiakan manusia. Berpangkal dari ketauhidan itu, Gus Dur menghargai apa yang sudah diciptakan oleh Tuhan. Yang mana Gus Dur tidak memandang status sosial dari kelompok minoritas yang dianggap sesat/melenceng oleh mayoritas. Gus Dur tengah mengilhami, lebih menghormati nilai-nilai kemanusiaannya. Tidak memandang sinis apabila mereka salah. Apalagi sampai melakukan kekerasan kepadanya.

Kedua prinsip tersebut, yang hemat penulis, menjadi kekuatan Gus Dur dalam menghadapi setiap problema kehidupan yang pelik ini. Pada akhirnya, perjuangan Gus Dur tersebut perlu kita tiru, kita uri-uri dalam rahim kebhinekaan yang ada di bumi pertiwi. Perbedaan adalah rahmat, yang harus disikapi dengan kedewasaan. Bukan dengan tindak kekerasan yang dapat merugikan liyan.

Selamat jalan Gus. Matersuwun, sudah mengajarkan kepada bangsa Indonesia mengenai betapa indahnya sebuah keberagaman dan pentingnya menghargai hak-hak kemanusiaan ditengah kemajemukan. Al-Fâtihah.

*Tulisan ini dinobatkan sebagai juara 1 dalam lomba penulisan esai yang diadakan oleh PMII Abdurrahman Wahid UIN WALISONGO Semarang

1 Comment

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top