Review Buku

Menggerakkan Tradisi: Esai-Esai Pesantren

Oleh: Ahmad Ali Akbar Muh

“Pesantren bersifat dinamis, terbuka pada perubahan dan mampu menjadi penggerak perubahan yang diinginkan” begitulah pendapat Gus Dur mengenai pesantren.

Siapa yang tidak kenal Abdurrahman Wahid, sosok presiden yang mempunyai wawasan yang luas dan juga dikenal humoris dengan gaya uniknya yaitu kata-kata “Gitu aja kok repot”. Gus Dur dikenal sebagai orang yang terlahir di kalangan pesantren, namun masih belum banyak yang mengetahui pemikirannya mengenai pesantren dalam menghadapi gelombang perubahan. Melalui buku ini kita bisa mengetahui pemikiran Gus Dur yang sangat mendukung pembangunan pesantren agar menjadi lembaga pendidikan yang lebih baik lagi. Dan dari pemikiran gus dur tersebut, diharapkan bisa menjadi pedoman untuk membangkitkan pesantren yang keberadaannya kini mulai diabaikan.

Buku ini adalah kumpulan dari esai-esai yang pernah dimuat di kompas, jurnal Pesantren, dan beberapa diantaranya merupakan bahan presentasi di berbagsi sminar/pelatihan. Rentang waktu perumusannya terjadi antara awal tahun 1970-1980 dimana rezim Orde Baru sedang gencar melakukan melakukan program pembangunan(modernisasi). Fokus pembahasan dalam buku ini adalah hubungan antara pesantren, negara dan pembangunan.

Buku ini juga mengkritik dunia pendidikan yang kini semakin krisis dimana banyak anak putus sekolah (drop out). Pemecahan masalah mengenai semakin krisisnya dunia pendidikan di Indonesia adalah pendirian sekolah umum oleh pesantren. Pesantren dihadapkan pada permasalahan sulit dalam mendirikan sekolah dimana pesantren yang mengembangkan sistem pendidikan seperti SMP dan SMA atau aliyah direpotkan dengan tersusunnya kurikulum baru (20% agama 80% umum) sehingga mengikuti kurikulum tersebut sama saja dengan “”sekolah umum”” sedangkan mempertahankan kurikulum lama yang lebih mementingkan agama tidak dikehendaki oleh siapapun. . Alasan utama pesantren tidak mendirikan sekolah umum adalah Tidak sesuainya “”sekolah umum”” dengan tujuan keagamaan yang dimiliki pesantren. Hal tersebut sebenarnya bisa diatasi oleh Gus Dur dengan cara mendirikan sekolah umum yang dikombinasikan dengan pengajaran agama melalui pengajian weton atau bandongan. Pendidikan jenis ini mengembalikan pengajaran pengetahuan agama ke tempatnya semula, yaitu di luar bangku sekolah. Tentu saja bentuk pendidikan ini mengakibatkan perubahan-perubahan yang sangat berarti dalam pembentukan tata nilai baru di pesantren.

Untuk bisa melakukan pembangunan maka harus ada watak mandiri, dan hal tersebut harus dimiliki pesantren. Untuk mengetahui watak mandiri pesantren maka harus dimengerti dulu latar belakang pertumbuhan pesantren itu, baik yang bersifat historis, kultural maupun sosial ekonomis. Lalu kita juga harus mengenal nilai-nilai utama yang berkembang di lingkungan pesantren. Watak mandiri yang dimiliki pesantren dapat dilihat dari 2 sudut yaitu dari fungsi kemasyarakatan pesantren secara umum dan dari pola pendidikan yang dikembangkan didalamnya. Dilihat dari fungsi kemasyarakatannya secara umum, pesantren adalah sebuah alternatif ideal bagi perkembangan keadaan yang terjadi di luarnya. Sedangkan dari pola pendidikan yang dikembangkan didalamnya watak mandiri pesantren dapat dilihat baik dalam sistem pendidikan dan strukturnya maupun dalam pandangan hidup yang ditimbulkannya dalam diri santri.

Melalui buku ini kita bisa mengetahui bahwa sebenarnya pesantren juga memberikan kontribusi besar terhadap pembangunan baik itu melalui individu-individu yang dicetak maupun mengubah pola kehidupan masyarakat disekitarnya.

*Penulis adalah Peserta Kelas Pemikiran Gus Dur 3

 

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top