Review Buku

Kata Pengantar Gus Dur

Oleh: Laelatul Badriyah*

Buku Sekedar Mendahuli: Bunga Rampai Kata Pengantar KH. Abdurrahman Wahid adalah sekumpulan kata pengantar Gus Dur untuk beberapa buku dengan bidang keilmuan yang berbeda dalam rentang waktu yang cukup panjang antara tahun 1986 sampai 2009. Buku ini terbit pada tahun 2011 oleh penerbit Nuansa Bandung yang digagas oleh murid-muris Gus Dur. Dalam buku ini terdapat 25 kata pengantar dari 25 buku. Sebenarnya, Gus Dur sudah sejak lama merencanakan lahirnya buku ini. Namun, karena berbagai kesibukan mengemban tugas negara cita-cita Gus Dur ini tidak kunjung terkabul. Hingga akhirnya teman-teman Gus Dur yang terkumpul dalam sebuah komunitas Diskusi Reboan Forum Demokrasi (Fordem) berinisiatif untuk mewujudkan cita-cita Gus Dur setelah Gus Dur wafat.

Buku ini di-kata pengantari oleh tiga orang yang memiliki kedekatan dengan Gus Dur, pertama dari Tri Agus S Siswowiharjo-Marto Art, kedua oleh Al-Zastrouw Ng, dan ketiga oleh Y.B Mangunwijaya. Dalam kata pengantar Agus, ia menceritakan proses lahirnya buku ini. Sementara Al-Zastrouw menceritakan keunikan Gus Dur ketika hendak membuat kata pengatar. Gus Dur tidak pernah membaca sampai tuntas buku yang akan diberi kata pengantar, hanya membaca daftar isi dan beberapa bab yang dianggap penting saja. Walaupun begitu, Gus Dur selalu mampu memberikan kata pengantar yang mencerminkan isi buku, sekaligus memberikan kelebihan dan kekurangan.

Al-Zastrouw pun mengatakan ada dua manfaat yang bisa diambil dari buku ini, pertama melalui buku ini pembaca dapat memperoleh gambaran mengenai isi, pemikiran, dan hasil penelitian beberapa intelektual yang bukunya diberi kata pengantar Gus Dur, meskipun belum membaca buku tersebut. Kedua, pembaca dapat melakukan penelusuran lebih jauh terhadap berbagai buku yang diperlukan. Buku ini bisa menjadi pemandu yang baik untuk pengembaraan intelektual seseorang, katanya.

Selanjutnya Y.B Mangunwijaya memberikan kata pengantar cukup detail. Ia membahas nyaris satu persatu dari kata pengantar yang ada dalam buku ini. Kata pengantar Mangunwijaya cukup membantu untuk memahami buku ini. Ia pun menuliskan kekagumannya kepada Gus Dur. Gus Dur seorang Kiai sekaligus negarawan yang bisa bergaul dengan siapa saja. Ia dengan keyakinan dan tenang tidak hanya bergaul dengan elit nasional dan internasional, namun dengan penuh kasih sayang ia dapat berbincang-bincang saling membagi rasa dan pandang dengan sekian banyak kiai dan santri mereka di segenap pelosok umat Islam paling bawah.

Kumpulan kata pengantar ini dapat dibagi dalam tiga kategori. Pertama tentang humor dan kebudayaan. Kedua, membahas penghayatan keagamaan, pemahaman serta citra tentang Tuhan dan religiusitas umum. Ketiga, khusus mengkaji dinamika agama kalangan Islam di Timur Tengah dan di Indonesia, termasuk komentar tentang para tokoh kiai serta pemikir Islam.

Ketika membaca bunga rampai kata pengantar ini, kita akan mengetahui betapa luasnya khazanah intelektual Gus Dur, ia dapat masuk ke dalam ranah ilmu apa saja. Sehingga saya berani menyimpulkan bahwa sepertinya Gus Dur tidak pernah ‘alergi’ untuk memahami suatu ilmu. Ilmu apapun ia pelajari dan pahami.

Menumbuhkan Sikap Religius Anak-anak (74) adalah salah satu buku Mangunwijaya yang di-kata pengantari Gus Dur (Jakarta: Gramedia, 1986). Mangunwijaya mencoba memberikan jalan untuk menumbuhkan sikap religious anak-anak secara universal. Artinya ia tidak melihat dari satu sisi agama saja, ia melihat dari berbagai agama, sehingga buku ini dapat dibaca oleh orang yang beragama apapun.

Di awal kata pengantarnya, Gus Dur mengkritik hubungan Tuhan dan manusia sebagai hubungan yang hitam-putih. Tuhan dipahami sebagai pemberi adzab bagi pendosa, dan Tuhan dipahami sebagai pemberi surga bagi orang yang berbuat baik. Hal ini sudah ditanamkan sejak dini. Menurut Gus Dur jika hanya pemahaman seperti itu, maka tidak akan tercipta sifat religious pada diri manusia.

‘… Jadilah bayangan Tuhanmu, agar kau mampu mencintai-Nya, adalah inti dari imbauan agama kepada manusia. Bagaimana mungkin kau mencapai derajat kecintaan kepada Tuhan dalam ukuran paling tepat, kalau kau tidak mencintai manusia secara umum, karena Tuhan justru mencintai mereka?’

Dari kutipan di atas, saya memahami bahwa jalan menuju religiusitas diri adalah diawali dengan menciptakan hubungan yang baik dengan sesama manusia. Karena Tuhan adalah Tuhan yang Baik, Pemaaf, Pemurah, dan Pengasih. Untuk menanamkan sifat-sifat Tuhan itu dalam diri manusia adalah dengan cara bersikap murah hati kepada sesama, mudah memaafkan kesalahan orang, dan senantiasa berusaha mengasihi mereka.

Hal yang harus dilakukan ketika mendidik anak adalah dengan cara memberikan keteladanan (Al-Hikam). Keteladanan adalah kata kunci dari kerja mengembangkan religiusitas dalam diri anak. Keimanan anak adalah sesuatu yang tumbuh dari pelaksanaan nyata, walaupun dalam bentuk dan cakupan sederhana, dari apa yang diajarkan. Karenanya, Tuhan yang abstrak tidak akan menciptakan religiusitas, karena ia tidak tergambar dari keteladanan yang kongkret (yang dapat diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari). ‘Tuhan milik anak, bukan hanya Tuhan milik kaum agamawan, apalagi Tuhan yang monopoli para teolog.’

Dalam buku Mengawal Negara Budiman (180) penulis membahas aspek-aspek demokratisasi. Ini secara tidak langsung membahas negara Indonesia karena Indonesia sebagai salah satu negara yang menganut paham demokasi. Jika membaca buku ini dengan seksama, sejatinya demokratisasi politik belum terjadi di Indonesia, kenapa? Karena tidak maksimalnya kedaulatan hukum yang ditegakkan, diperkirakan hanya sepersepuluhnya saja yang telah dijalankan.. Itu disebabkan karena kita tidak memiliki peradilan yang benar-benar bebas dari campur tangan luar. Kedaulatan hukum merupakan aspek demokratisasi yang penting.

Selain itu, keadilan ekonomi pun belum sepenuhnya terjadi. Elitis politik di negara kita menyebut-menyebut ekonmi nasional, bukan ekonomi rakyat. Ini disebabkan karena adanya kenyataan bahwa para pendiri negera kita adalah orang-orang bangsawan, Karno dan Hatta.

Banyak persoalan ketimpangan yang terjadi dalam kehidupan bernegara disebabkan karena tidak ada keberanian untuk sungguh-sungguh melaksanakan hukum.

Dalam buku ini pun, penulis menjabarkan keunggulan nilai-nilai islam dilihat dari kemampuan mengembangkan pluralitas. Bagaimana menoleriri nilai-nilai lain tanpa harus kehilangan identitas Islam dan Ahlussunah wal-Jama’ah.

Kasus Penafsiran Ulang yang Utuh (263) adalah judul kata pengantar dari buku Pajak itu Zakat karya Masdar F Mas’udi (Bandung: Mizan 2005). Gus Dur mengantarkan buku Pajak itu Zakat dengan membahas dua rukun yang menjadi landasan agama Islam terlebih dahulu, yakni Rukun Iman dan Rukun Islam. Rukun Iman adalah pengakuan individual akan keterikatan seorang Muslim dengan eskatologi agamanya. Sedangkan rukun Islam adalah keterlibatan seseorang dengan fungsi sosial agamanya. Zakat merupakan rukun Islam yang ketiga. Dalam hal ini Zakat mempunyai peran sosial agama terhadap pemeluknya selain mempunyai fungsi menyucikan harta dan diri.

Seperti halnya ruh dan badan, zakat dan pajak memang berbeda, tetapi bukan terpisah. Zakat adalah ruh, sedangkan pajak adalah badannya. Sebagai konsep keagamaan, zakat bersifat ruhaniah dan personal, sementara konsep kelembagaan dari zakat itu sendiri yang bersifat profane dan sosial, tidak lain adalah pada apa yang kita kenal selama ini dengan sebutan pajak. Oleh sebab itu, barang siapa dari umat beriman yang telah membayarkan pajaknya (dengan niat zakat) kepada negara/pemerintah, maka terpenuhilah sudah kewajiban agamanya. Sebagai seorang muslim ia telah menunaikan tanggungjawab sosialnya secara benar dan semestinya. Sebaliknya, sebarapa besar infak seorang muslim kepada pihak tertentu tanpa lewat negara dan pemerintah, maka sumbangan itu hanya dianggap sebagai sedekah biasa yang bersifat ekstra dana tidak bisa menggugurkan kewajiban pajaknya.

Pesan dari buku ini adalah pertama, hendaknya rakyat tidak lagi membayar pajak semata-mata karena takut sanksi negara yang bersifat lahiriah dan bisa diakali, tetapi justru harus dihayati sebagai panggilan ilahiyyah yang suci. Kedua, kepada pihak negara/pemerintah sebagai yang diberi wewenang untuk mengelolanya, hendaknya menyadari bahwa yang pajak yang ada di tangannya adalah amanat Allah yang harus di-tasharruf-kan untuk kemaslahatan segenap warga, terutama yang lema dan tidak berdaya, apapun gama dan keyakinanya.

Sejarah Kekerasan yang Selalu Berulang adalah judul kata pengantar untuk buku berjudul Ustadz, Saya Sudah Di Surga yang ditulis oleh Mohammad Guntur Romli. Buku ini merupakan gambaran atau tindakan-tindakan yang tidak hanya berlaku di masa kini, tetapi juga merupakan penerusan dari sebuah tradisi dari kaum muslimin di mana pun mereka berada. Ia membahas berbagai macam gerakan, hingga ditemukannya beberapa kelompok ‘berhaluan keras’ seperti gerakan fundamentalis, gerakan militan, dan gerakan radikal. Ia mencoba menguraikan latar belakang munculnya gerakan-gerakan tersebut. Gerakan ini umumnya lahir akibat penolakan mereka terhadap kaidah dialog, dan keterbukaan: mereka mengklaim bahwa ajaran yang mereka anut paling benar. Tak jarang, mereka menjadikan kebenaran Ilahi sebagai pembenaran.

Gerakan-gerakan yang membela kebenaran dengan kekerasan sejatinya sedang tidak membela kebenaran. Karena dalam kekerasan tersebut mengabaikan nilai-nilai kemanusiaan. Membela kebenaran berarti harus juga mempertahankan prikemanusiaan. Kita dituntut memiliki kemampuan untuk mempertahankan kemanusiaan, sehingga kebenaran mutlak hanyalah milik Tuhan.

*Penulis adalah alumni Kelas Pemikiran Gus Dur angkatan II

1 Comment

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top