Gus Dur dalam Pena

Penerus Gus Dur Akan Muncul

Oleh : Ingki Rinaldi

[dropcap]S[/dropcap]elamat jalan kakakku, selamat jalan pemimpinku. Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,” suara K.H. Salahuddin Wahid atau Gus Solah tercekat saat membacakan kalimat itu.

Hari itu, Kamis (31/12/2009), Gus Solah. Wakil keluarga, membacakan sambutan saat pemakaman Presiden ke-4 RI Abdurrahman Wahid atau Gus Dur yang digelar di Maqbarah (pemakaman) Tebuireng, Pondok Pesantren Tebuireng, Kabupaten Jombang, Jawa Timur.

Khatib Majelis Pengasuh Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, K.H. Irfan Sholeh atau Gus Irfan, seusai pemakaman itu mengatakan, penerus Gus Dur akan muncul. Menurut Gus Irfan, umat Islam tidak perlu merasa resah sepeninggal Gus Dur.

“Seperti Salahuddin Al-Ayubi seusai menaklukkan Jerusalem. Sudah (terbuka) tinggal meneruskan. Seperti Hadratussyekh K.H. Hasyim Asy’ari muncul setelah (Pangeran) Diponegoro,” ungkap Gus Irfan.

Sementara itu, menurut K.H. Hasyim Muzadi, Gus Dur mestinya dinilai secara utuh, lengkap dengan segala kebaikan dan kelemahannya. Hasyim menilai, selama ini sejumlah pihak kerap tidak adil dalam menilai Gus Dur karena cenderung mengeksploitasi kelemahannya.

Dalam konteks percaturan politik, terutama di tubuh Partai Kebangkitan Bangsa, Hasyim mengisyaratkan agar konflik yang selama ini terjadi diselesaikan dan agar semua kubu bersatu. Menurut Hasyim, saat ini PKB harus dijalankan secara kolektif karena belum ada lagi sosok sekuat dan sekomplet Gus Dur.

gus musWarisan Gus Dur yang tidak ternilai berupa pemikiran dan sikap hidup ini pula yang diingat oleh K.H. Mustofa Bisri atau Gus Mus. Menurut Gus Mus, yang juga sahabat karib Gus Dur, satu pekan sebelum wafat, ketika mengunjungi Rembang, Kamis (24/12/2009), mereka sempat berbincang-bincang soal masa lalu.

“Sebagai sahabat, ia (Gus Dur) baik. Ya, kami bicarakan tentang kawan-kawan lama. Siapa yang masih hidup pernah dibina Gus Dur, seperti Presiden Maladewa dan Menteri Pertahanan Eritrea,” kata Gus Mus.

Pengasuh Pondok Pesantren Syalafiyah As-Syafiiyah, Asembagus, Sukorejo, Situbondo, K.H. Fawadi As’ad Samsul Arifin, menambahkan, saat ini tantangan untuk menularkan pemikiran Gus Dur ke kalangan muda ditantang oleh fenomena radikalisme dan fanatisme agama yang sempit.

Salah seorang sepupu Gus Dur, Hajjah Anik Azizi Bisri, lalu bercerita soal kepulangan untuk selama-lamanya itu, Gus Dur sudah pernah juga membicarakannya. “Saat berkunjung ke Jombang, ke rumah mertuanya di (Kelurahan) Kepanjen, Jombang, Gus Dur sudah berkata kepada suami saya (K.H. Aziz Mashuri) bahwa pada Kamis tanggal 31 (Desember), ia (Gus Dur) akan kembali ke Jombang,” katanya.

Dalam pandangan Ketua PWNU Jatim, K.H. Mutawakkil Alallah, apa yang dirasakan Gus Dur sepekan lalu soal kepulangannya itu bisa dibaca secara spiritual sebagai sebuah kelebihan. “Hal ini ada penjelasannya. Bahwa orang yang dekat dengan Allah SWT. Ucapan dan tindakannya dijaga,” sebut Mutawakkil.

 

Dalam buku “Damai Bersama Gus Dur”

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top