Gus Dur dalam Pena

Gelar Pahlawan? Gitu Aja Kok Repot

Masih ingatkah Anda dengan komik Si Buta dari Goa Hantu dulu? Dia seorang pengembara yang berkelana ke penjuru negeri, hingga di suatu daerah mengetahui keadaan sehari-hari rakyat yang sengsara hidupnya dan pada saat yang sama para tuan tanah kaya raya hidup di atas penderitaan orang lain.

Meski terbatas kemampuan fisiknya, dia memerangi kejahatan. Kita juga kenal tokoh Robin Hood, ksatria yang memilih berkelana di hutan bersama pasukannya untuk memerangi kejahatan Sheriff of Nottingham. Modusnya sama, merampok kereta para bangsawan yang melintas di hutan Sherwood, lalu membagikan kepada rakyat di kampung.

Robin dianugerahi gelar ksatria (Sir, baca: pahlawan) oleh Raja Richard “Lion Hearted” setelah berhasil menggagalkan usaha kudeta terhadap kerajaan. Ia menjadi pahlawan secara horizontal (membantu rakyat di sekelilingnya, menjaga keselamatan Marian, kekasihnya) dab vertikal (menjaga kedaulatan kerajaan).

Pahlawan adalah seseorang yang telah memperlihatkan sikap-sikap unggul dan terpuji dalam keberanian, kepeloporan, serta kerelaan berkorban dalam memperjuangkan kebenaran dan kepentingan rakyat kebanyakan.

Dalam analogi yang sama, belakangan pasca meninggalnya Gus Dur, publik mendesak penganugerahan gelar pahlawan kepadanya, mengingat jasa-jasanya kepada bangsa.

Salah satu yang menonjol dari Gus Dur adalah perannya sebagai penyeimbang (baca: bumper) gerakan keagamaan dan politik di Indonesia. Ia tidak pernah berada dalam satu ekstrem ke ekstrem yang lainnya.

Dengan sadar, ia menentang arus besar dengan mental dan legitimasi yang kuat. Ditambah garis keturunan dari keluarganya (para pendiri NU yang juga telah berjasa bagi Indonesia) telah mewariskan kemampuan intelektual dan modal kepemipinan yang membuat ia bisa bertahan.

Bila Gus Dur dianugerahi gelar pahlawan, tentu bukan bentuk pengultusan individu, tetapi wujud rasa hormat kepada individu yang telah mengabdi, berkorban, serta berjasa tanpa pamrih bagi kejayaan bangsa.

Yang tidak kalah penting adalah bagaimana nilai-nilai keteladanan yang dimiliki dapat dijadikan pedoman dan tuntunan berperilaku. Pahlawan bukan sekadar gelar semata tetapi merupakan sikap hidup. Kepahlawanan merupakan sebuah pilihan, bukan dilahirkan atau diciptakan.

Ini menjadi semakin jelas jika mengingat sikap dan penyikapan Gus Dur terhadap kondisi sekelilingnya dan menyampaikan pendapat yang kerap dianggap kontrovesial, namun justru membuka wacana yang memungkinkan terciptanya suatu terobosan atau solusi permasalahan bagi bangsa yang memang beragam ini. Pada akhirnya hanya orang-orang yang cerdas yang berperspekti ke depan saja yang mampu menangkap esensi kalimat yang diungkapkannya.

Barangkali saat ini di liang kubur yang masih basah itu, jika Gus Dur mengetahui ributnya orang-orang mengurus gelar pahlawan baginya, dengan tanpa ekspresi ia pasti akan berkata: gitu aja kok repot.

 

Catur Wiyogo

Mahasiswa Jurusan Seni Karawitan Fakultas Seni Pertunjukan ISI Solo

Dalam buku “Damai Bersama Gus Dur”

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top