Review Buku

Review Buku “Sekadar Mendahului: Bunga Rampai Kata Pengantar”

gus dur - sekedar mendahului

gus dur – sekedar mendahului

Sekilas, dilihat dari judulnya buku ini terlihat unik. Dan memang, dibalik buku yang unik terdapat penulis yang unik pula. Gus Dur (Sapaan akrab KH. Abdurrahman Wahid) adalah sosok unik dibalik lahirnya buku ini. Sesuai dengan judulnya, buku ini merupakan kumpulan kata pengantar Gus Dur yang dikumpulkan dari berbagai buku dalam rentang waktu antara tahun 1986 sampai 2009. Buku ini adalah wujud keinginan Gus Dur yang tidak terlaksana hingga dirinya meninggal. Akhirnya, sahabat-sahabat Gus Dur dari kalangan aktivis merasa terpanggil untuk merealisasikan terbitnya buku ini. Namun tidak semua kata pengantar Gus Dur mampu dikumpulkan semua oleh tim penyusun karena adanya berbagai kendala. Alhasil, hanya 26 kata pengantar yang mampu terkumpul dan terdapat 11 kata pengantar yang belum ditemukan.

Membaca buku ini mau tidak mau kita akan melihat sisi universal Gus Dur. Karena buku ini menyajikan sisi pemikiran Gus Dur yang mampu menjangkau berbagai persoalan dalam berbagai ranah. Gus Dur telah mengantarkan banyak buku, yang mana setiap bukunya cenderung memiliki bahasan topik yang berbeda sama sekali. Secara keseluruhan kata pengantar dalam buku ini diklasifikasikan berdasarkan tema, yaitu: Pengantar buku humor dan budaya, politik, NU dan Gus Dur, agama dan pluralisme, serta biografi.

Pada tema humor dan budaya, Gus Dur memberi kata pengantar pada buku Z. Dolgopolova, Mati Ketawa Cara Rusia. Dalam buku lelucon ini, Gus Dur mengantarkannya dengan lelucon pula. Pada setiap lelucon yang Gus Dur lontarkan dalam kata pengantarnya selalu diikuti dengan pesan moral maupun unsur kritik yang terkandung di dalamnya. Bagi Gus Dur, humor/lelucon merupakan senjata ampuh untuk memelihara kewarasan orientasi hidup sebuah masyarakat, dengan itu masyarakat dapat menjaga jarak dari keadaan yang dinilai tidak benar. Dengan sifat humoris yang sudah melekat pada diri Gus Dur dan segudang lelucon yang ia miliki, seakan Gus Dur telah menguasai buku yang ia beri kata pengantar ini dengan sempurna. Di sisi lain, Gus Dur juga memberi kata pengantar yang berjudul “Kerangka Budaya Lama dan Budaya Baru” pada buku H.A. Kholiq Arif dan Otto Sukatno CR, Mata Air Peradaban: Dua Milenium Wonosobo. Dalam pengantarnya, Gus Dur memaparkan sejarah singkat Wonosobo mulai dari awal masuknya Buddha di Nusantara sampai pada masa kolonial Belanda. Pada kronologi sejarah tersebut dapat kita ketahui bagaimana lahirnya beberapa budaya yang saat ini kita kenal.

Selanjutnya pada tema politik, Gus Dur memberi pengantar yang berjudul “Titik Tolak Demokrasi dan Sikap Menolak Kekerasan” pada buku Gene Sharp, Menuju Demokrasi Tanpa Kekerasan: Kerangka Konseptual untuk Pembebasan. Dalam hal ini Gus Dur menyebut bahwa kekuasaan diktator selalu identik dengan sifat militeristik, walaupun baju yang digunakan tidak selalu disebut demikian. Di sini Gus Dur mencontohkan kediktatoran seorang Salazar di Portugal dan Hitler di Jerman. Kedua penguasa diktator tersebut sama-sama memiliki latar belakang sipil, namun pasukan-pasukan militer yang bersendikan militeristik telah menjadi pengokoh kekuasaan mereka. Dalam hubungannya dengan demokrasi, pemerintahan diktator tidak memberikan kelonggaran pada masyarakat untuk berbeda pendapat secara luas dan menetap dengan sang penguasa. Pada kenyataannya klaim tentang keabsahan pendapat, sikap, atau keputusan yang diambil justru menjadi pengingkaran terhadap kehendak rakyat. Dengan kata lain, Gus Dur mengungkapkan adanya demokrasi yang bisa berdiri tegak karena dalam Negara tersebut bebas atau terlepas dari adanya unsur kekerasan-militerstik.

Dalam buku Einar Martahan Sitompul, NU dan Pancasila, Gus memberi kata pengantar tentang konsep Negara menurut pandangan Mazhab Syafi’i yang mana terdapat tiga jenis, yakni: dar Islam (Negara Islam), dar harb (Negara perang), dan dar shulh (Negara damai). Jika dilihat dari sejarahnya, NU sejak dulu telah menerima Pancasila sebagai ideologi negara dan falsafah hidup bangsa pasca kemerdekaan. Alasannya jelas, hal ini diperbolehkan dalam pandangan kaum Ahlussunnah wal-Jama’ah, karena selama kaum Muslimin dapat menyelenggarakan kehidupan beragama mereka secara penuh, maka konteks pemerintahannya tidak lagi menjadi pusat pemikiran. Hal inilah yang kemudian menjadikan Indonesia sebagai dar shulh (Negara damai) yaitu mendudukkan pemerintahan pada “posisi netral.”

Gus Dur juga memberi kata pengantar yang berjudul “Uraian Historis tetapi Obyektif” terhadap buku tentangnya yang ditulis oleh Mahfud MD, Setahun Bersama Gus Dur: Kenangan Menjadi Menteri di Saat Sulit. Dalam kata pengantarnya Gus Dur sedikit menyanjung Mahfud MD sebagi pribadi yang jujur, pecinta kebenaran, dan seorang yang memiliki kesederhanaan hidup. Gus Dur kemudian mengungkapkan kegembiraan hatinya bahwa ia tak salah pilih ketika memilih beberapa tokoh muda yang ia tetapkan sebagai menteri-menteri Negara yang telah banyak membantu dalam posisinya sebagi presiden.

Pada tema Agama dan Pluralisme, Gus Dur memberi kata pengantar yang ia beri judul “Ulil dengan Liberalismenya” terhadap buku Menjadi Muslim Liberal, karya Ulil Abshar Abdalla. Gus Dur menyampaikan bahwa Ulil dianggap “aneh” oleh banyak kalangan disebabkan karena Ulil mempertahankan kemerdekaan berpikirnya, sehingga meruntuhkan asas-asas keyakinannya sendiri atas “kebenaran” Islam yang telah menjadi keyakinan baku pada diri setiap muslim. Reaksi tersebut muncul akibat kekurangpahaman orang lain dalam melihat kebebasan berpikir Ulil. Gus Dur menyamakan fenomena kekurangpahaman tersebut dengan kasus tentang “Assalamu’aikum” yang pernah ia alami dan sempat ramai itu. Gus Dur menyampaikan bahwa kemerdekaan berpikir juga mempunyai batas-batas, namun Gus Dur menyebut latar belakang Ulil mencoba berpikir merdeka tersebut karena ia tahu batas-batas tersebut.

Pada bab terakhir buku ini, terdapat beberapa biografi tokoh yang diberi kata pengantar oleh Gus Dur. Di antara tokoh tersebut yang kemudian tertuang dalam buku: Benny Moerdani Profil Prajurit Negarawan karya Julius Pour, K.H. Muntaha Al-Hafizh: Pecinta Al-Qur’an Sepanjang Hayat karya Samsul Munir Amin, dan The Wisdom of K.H. Achmad Siddiq: Membumikan Tasawuf karya Dr. Syamsun Ni’am. []

 

Muhammad Pandu

* Santri Gus Dur asal Kediri

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top