Review Buku

Permata itu Bernama Gus Dur

“All in one” kiranya itulah kata yang tepat untuk mendeskripsikan sosok Gus Dur, hampir tidak ada satu lini-pun yang luput dari pemikirannya. Presiden SBY dan Sri Sultan  HB X menyebut Gus Dur sebagai bapak dan pejuang pluralisme Indonesia, gelar ini tidak sembarang disematkan pada sosok Gus Dur, melainkan dengan mempertimbangkan kiprahnya dalam merintis cairnya hubungan antar umat beragama semenjak tahun 70-an, ini dia lakukan dengan intens menjalin komunikasi, dialog, advokasi, misalnya Gus Dur datang ke kantor PGI Jakarta saat ada sebuah gereja yang ijinnya dibredel oleh wali kota setempat, bahkan mencabut inpres 14/1967 tentang agama , kepercayaan dan adat istiadat China. Ini  adalah sebagian dari alasan dibalik digelarnya berbagai acara do’a bersama untuk Gus Dur oleh umat  lintas agama.

Di kalangan pesantren Gus Dur dikenal sebagai sosok pembaharu dengan menggagas model baru dalam bermazhab yaitu mazhab manhaji, berbeda dengan mazhab qouli yang mengambil bunyi teks sebagai sandaran, mazhab manhaji mengambil illat hukum dan metode berfikir imam mazhab untuk memecahkan problematika umat. Diluar pesantren Gus Dur lekat dengan brand pribumisasi islam yang salah satu produk jadinya adalah mengganti assalamu’alaikum dengan selamat pagi. Hamdan Farchan mengenang Gus Dur sebagai teolog inklusiv, yang meyakini bahwa kepercayaan lain dapat memberikan buah yang tidak kalah baiknya dari buah kepercayaan yang dianut diri sendiri.

Direktur MURI, Jaya Suprana bahkan menisbatkan Gus Dur kepada filsuf Yunani klasik, Socrates. Mereka berdua sama dalam kebijaksanaan, keteguhan memegang prinsip, gemar berdialektika sembari melontarkan kritik tajam dalam bentuk lelucon yang kerapkali disalah fahami—jangankan lelucon, bahkan namanyapun disalah fahami dia sering dipanggil Pak Gus Dur, padahal “Gus” bukan unsur nama dan ini semakna dengan pak.  Bedanya Socrates harus menebus kebiasaan nylenehnya ini dengan meminum racun hemlock, sedangkan Gus Dur cukup dilengserkan dari kursi kepresidenan setelah mengkritik DPR seperti barisan anak TK.

Nama Gus Dur juga sulit dilepaskan dari dunia aktivis, bersama Megawati, HB X dan Amin Rais, dia turut membidani lahirnya Reformasi 98 dan mengawalnya kurang lebih selama satu tahun, hingga pada saatnya proses politik menghantarkannya ke tampuk kekuasaan sebagai presiden RI ke-4, posisi tertinggi yang berhasil diraih kalangan pesantren, hingga hari ini.

Tidak berhenti sampai disitu Gus Dur menampakkan wajah lain sebagai seorang demokrat sejati, misalnya dengan membubarkan departemen penerangan, karena menghambat perkembangan media sebagai salah satu pilar demokrasi. Demokratisasi Gus Dur bahkan bisa dilacak jauh ke belakang pada saat dia mendirikan FORDEM, yang beranggotakan tokoh lintas agama dan ideologi, sebagai respon atas didirikannya ICMI yang dianggapnya sektarian. Juga keterbukaan PKB dalam menerima anggota, bahkan memasukkan orang non-NU, non-muslim, non-Jawa dan perempuan dalam jajaran kepengurusan partai yang merupakan “anak kesayangan NU” ini.

Gus Dur juga dikenal gigih memperjuangkan penegakan HAM di Indonesia, selain membentuk kementrian HAM, Gus Dur juga membubarkan BAKORSTRANAS dan LITSUS. dua lembaga yang mengontrol masyarakat dan PNS.  Gus Dur sempat mengusulkan pencabutan Tap MPRS No XXV/1966 mengenai pembubaran PKI dan pelarangan pengajaran marxisme, komunisme dan leninisme, yang sangat membatasi ruang gerak warga eks-PKI dan keturunannya. Dia juga dikenal sebagai politikus ulung, dengan kecerdikannya Gus Dur berhasil menempatkan tiga kadernya dalam bursa capres-cawapres 2004, selain dirinya sendiri yang telah memproklamirkan diri menjadi capres berpasangan dengan Marwah Daud Ibrahim, tiga orang itu adalah Salahudin Wahid melalui Golkar, Hasyim Muzadi melalui PDI-P, dan Khofifah melalui Aliansi Nasional. Erros Djarot menyebut strategi ini sebagai politik tebar jala.

Itulah kurang lebih sosok Gus Dur yang spektrum pemikirannya begitu luas, memiliki banyak sisi sebagaimana “permata”, masing-masing sisi memiliki daya tarik tersendiri. Inilah kiranya saripati yang dapat diserap dari antologi berjudul, GUS DUR Santri Par Excellence : teladan sang guru bangsa.

*Sumber gambar dari Google

Rofiq Hamzah

*Peserta Kelas Pemikiran Gus Dur 3

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top