Celoteh Santri Gus Dur

BEDAH BUKU SULUK GUS DUR

Jumat 15 April 2014, Jaringan Gusdurian bekerjasama dengan Radio Buku menyelenggarakan diskusi buku “Suluk Gus Dur” karya Nur Khalik Ridwan pada acara Booklovers Festival di Bale Black Box Radio Buku, Bantul, Yogyakarta. Berikut ini laporannya.

“Masih ada sebagian orang yang beranggapan bahwa nilai-nilai yang diilhami dan diperjuangkan oleh Gus Dur selama ini adalah fundamentalisme liberal, yang selalu merujuk dari

sumber gambar: tokoone.com

sumber gambar: tokoone.com

Barat. Hal itu bisa dibaca pada bukunya Greg Barton tentang biografi Gus Dur, buku penerbitan Paramadina, dan lain-lain. Demikianlah yang menjadi kegelisahan saya untuk melahirkan karya dengan judul Suluk Gus Dur ini,” demikian papar Nur Khalik Ridwan dalam sebuah acara Booklovers Festival di Bale Black Box-Radio Buku, Bantul-Yogyakarta, pada Jum’at malam (15/4).

Nur Khalik menambahkan, kalau dikatakan Gus Dur sebagai pejuang liberalisme, tidak mungkinlah, karena tiap bulan Gus Dur selalu mengadakan acara khataman alqur’an rutinan di rumahnya dan Gus Dur juga sering melakukan ritual ziarah kubur, jadi tidak mungkin perilaku itu dilakukan oleh orang liberal.

Di samping itu, suluk Gus Dur yang lain diantaranya adalah beliau sangat menyukai silaturrahim, berjiwa pemaaf, dan selalu aktif dalam membela hak-hak kemanusiaan. Karena Gus Dur tidak suka melihat pendzoliman terhadap seseorang, bahkan dengan atas nama agama sekalipun Gus Dur siap berada di garda terdepan untuk melakukan pembelaan terhadap mereka yang didzolimi.”jelas pria alumni UIN Suka Yogyakarta tersebut.

Selain Nur Khalik Ridwan sebagai pemateri, pada acara bedah buku tersebut juga diisi oleh Irwan Masduqi, seorang penulis buku sekaligus alumnus al-Azhar Kairo. Menyinggung kata suluk, pria yang akrab disapa dengan Gus Irwan, tengah menjelaskan dengan apik mengenai penggambaran suluk oleh para wali.

Menurut Irwan, suluk adalah kata yang mempunyai arti laku, dan oleh para wali itu mempunyai makna tersendiri, maka dibuatlah sebuah lagu sluku-sluku bathok, bathok e ela-elo. Makudnya adalah usluk-usluk bathnak, hal itu merupakan kata perintah, ajaklah perutmu itu ke dalam jalan menuju Tuhan, dan perutmu itu berdzikir kepada Allah. Bathok e ela-elo. Adalah Lailaahaillah.

Nah, kaitannya dengan itu, suluk Gus Dur adalah beliau memang tidak melakukan revolusi sosial dengan anarkisme dan lain sebagainya, tetapi perubahan yang dilakukan oleh Gus Dur adalah dengan cara yang santun, demokratis yang sesuai dengan revolusi spiritual.”tambah Irwan.

Hal itu bisa dilihat bagaimana Gus Dur sewaktu lengser dari kursi jabatan presiden, tetapi beliau malah keluar dari istana negara dengan menggunakan celana pendek, seakan beliau memang tidak mempunyai apa-apa, dan tidak ada jabatan yang perlu dipertahankan dengan cara berdarah-darah. Hal itu sangat berbeda dengan pemimpin-pemimpin sekarang, yang begitu gila dengan jabatan.

Walaupun demikian, sebagai pembanding, Irwan menegaskan kekurang setujuan dengan judul buku Suluk Gus Dur tersebut. Karena suluk menurut Irwan masih tahap pubertas, padahal Gus Dur sudah melewati masa pubertas, atau yang biasa disebut dikalangan sufi dengan sebutan makrifatullah. “Jadi lebih tepatnya adalah bukan suluk Gus Dur, akan tetapi ma’rifatullah Gus Dur atau Haqiqatullah Gus Dur”.jelas Irwan

Acara bedah buku tersebut dalam rangka kerjasama antara komunitas Gusdurian Yogyakarta dengan komunitas Radio Buku. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Ahmad Shalahuddin, selaku ketua panitia acara. “Pengajian Gusdurian ini merupakan acara rutinan Gusdurian Jogja, diantara acara tersebut ada bedah film, diskusi, dan bedah buku. Kebetulan Radio Buku sedang mengadakan acara Booklovers Festival, jadi kita menyambut gayung ini dengan hangat.”

 

Autad

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top