Gus Dur dalam Pena

Perlawanan Simbolik Gus Dur

    Oleh: Agus Muhammad*

    HEADLINE Kompas (15/5), “Abdurrahman Wahid Tak Penuhi Syarat Kesehatan” memperkuat dugaan sementara orang, Abdurrahman Wahid (Gus Dur) tidak akan lolos seleksi pencalonan presiden.

    Sebagaimana diumumkan KPU, Jumat malam (14/5), calon presiden (capres) dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) itu dinyatakan tidak memenuhi syarat secara rohani dan jasmani untuk melaksanakan tugas sebagai presiden. Meski belum ada kesimpulan apakah KPU menerima atau tidak Gus Dur sebagai capres (penetapan KPU dilakukan hari ini), pemberitahuan KPU, Gus Dur tidak memenuhi syarat kesehatan memberi isyarat Gus Dur sulit masuk bursa pemilihan presiden.

    MEMANG, peluang Gus Dur untuk maju sebagai capres belum tertutup. Itu sebabnya, perjuangan Gus Dur belum berakhir. Gus Dur sendiri yakin, dirinya masih mampu menjadi presiden.

    Apa yang membuat Gus Dur terus maju dalam bursa pemilihan presiden? Tulisan Adhie M Massardi di website resmi Gus Dur (www.gusdur.net) menarik dicermati. Apa yang dilakukan Gus Dur merupakan perlawanan atas praktik diskriminasi yang dilakukan KPU. “Kalau saya tidak maju (jadi capres) dan menggantinya dengan kader yang sudah saya siapkan, itu merupakan kemenangan kekuatan antidemokrasi dan matinya demokrasi di negeri ini. Ini berarti seluruh perjuangan saya selama puluhan tahun tidak punya arti bagi bangsa ini,” ungkap Gus Dur seperti dikutip Adhie M Massardi.

    Terlepas apakah Gus Dur lolos seleksi atau tidak, pencalonan Gus Dur merupakan fenomena menarik. Selain akan mengubah peta dukungan suara pemilih, pencalonan Gus Dur akan memberi pembelajaran demokrasi terhadap bangsa ini. Dikemukakan Adhie, presiden adalah jabatan politik, jabatan publik. Untuk itu syaratnya hanya satu: dukungan politik, dukungan rakyat! Prosesnya, lewat pemilu presiden langsung itu.

    Bila Gus Dur lolos pencalonan, rakyat akan menilai dan menentukan apakah ia layak atau tidak jadi presiden. Logika ini memang mengandung simplifikasi. Masalah bangsa dan negara terlalu kompleks untuk disimplifikasi. Itu sebabnya, fenomena ngotot-nya Gus Dur dalam bursa pemilihan presiden tidak sepenuhnya bisa dibaca dengan kacamata telanjang. Apa yang dilakukan Gus Dur lebih merupakan perlawanan simbolik untuk memberi pembelajaran demokrasi ketimbang sebuah ambisi untuk meraih kekuasaan yang pernah lepas dari tangannya. Hal sama dapat dilihat pada keterlibatan Gus Dur dalam aliansi menolak hasil pemilu. Penolakan tak lebih dari perlawanan simbolik untuk menunjukkan, pemilu berlangsung tak bersih, banyak kecurangan, dan harus menjadi catatan kita semua.

    Perspektif yang sama bisa dipakai untuk membaca sikap ngotot Gus Dur dan PKB dalam pencalonan presiden. Kiranya sejak awal Gus Dur dan PKB tahu, mantan Ketua PBNU itu akan “dijegal” melalui persyaratan ketat, terutama menyangkut kesehatan. Karena itu, mereka tidak terlalu berharap Gus Dur lolos.

    Upaya serius ini tak lebih dari perlawanan simbolik untuk meyakinkan publik, kelayakan seseorang untuk memimpin bangsa seharusnya ada di tangan rakyat, bukan di tangan segelintir orang yang memegang posisi penting dalam proses pengambilan kebijakan.

    Secara tersirat, mereka seolah ingin mengatakan, persyaratan moral jauh lebih penting dari persyaratan fisik. Problem fisik masih bisa ditanggulangi dunia kedokteran, tetapi problem moral jauh lebih sulit. Dalam perebutan kekuasaan yang dalam dirinya mengandung kecenderungan untuk menyeleweng (power tends to corrupt), persyaratan moral jauh lebih signifikan daripada fisik. Inilah yang ingin ditunjukkan Gus Dur.

    Pembacaan ini tidak sepenuhnya bisa dianggap sebagai satu-satunya yang paling akurat. Masih banyak cara pembacaan lain yang bisa dilakukan. Secara tersirat, apa yang dilakukan Gus Dur bisa dianggap untuk memberikan pembelajaran demokrasi bahwa ada masalah serius dalam prosedur pemilihan presiden yang cenderung melukai demokrasi.

    NAMUN, agak sulit bagi banyak orang untuk tidak mengatakan, apa yang diperlihatkan Gus Dur selama ini tak lebih dari sebuah ambisi untuk kembali menduduki kursi presiden. Lagi pula, siapa yang tidak suka memiliki kekuasaan yang hampir tak terbatas? Godaan ini tidak bisa diabaikan sebab hasil pemilihan presiden sekarang berbeda dengan pemilihan presiden sebelumnya.

    Dengan pemilihan langsung, presiden terpilih memiliki legitimasi yang penuh dalam memimpin negeri ini. Mandat yang diperoleh dari rakyat, bukan dari anggota DPR/MPR yang sewaktu-waktu bisa dicabut. Dengan legitimasi yang begitu kuat, presiden hanya bisa diturunkan oleh rakyat. Dengan kekuasaan sebesar ini, siapa pun berambisi bisa menjadi presiden, tak terkecuali Gus Dur. Ini juga bisa menjadi alasan bagus bagi Gus Dur. Dengan kekuasaan presiden yang demikian besar, ia lebih leluasa membangun dan menegakkan demokrasi di negeri ini.

    Namun ada pembacaan lain yang tak kalah menarik. Sikap ngotot PKB dan Gus Dur untuk maju sebagai calon presiden semata-mata untuk memperkuat posisi tawar (bargaining position) dengan partai lain. Yang ingin ditunjukkan adalah, mereka bisa mengajukan calon presiden sendiri karena didukung massa begitu besar.

    Dalam bahasa Gus Dur, “tanpa politik uang pun PKB menempati urutan ketiga perolehan suara pemilu legislatif”. Dengan perolehan suara hampir 12 juta, mereka akan mengklaim, angka itu bisa membengkak tiga kali jika NU bersatu. Dengan angka sebesar ini, mereka tidak ingin hanya menjadi pendorong mobil mogok; setelah mobil berjalan mereka lalu ditinggalkan. Mereka ingin ambil bagian perebutan jatah kekuasaan.

    Dari tiga model ini, tidak ada satu model pembacaan pun yang bisa dianggap paling benar. Bahkan, bisa jadi, ketiga model pembacaan itu berkelindan satu sama lain. Pada saatnya akan terbukti mana yang paling dominan di antara tiga kemungkinan itu terutama ketika proses politik sampai pada fase pembagian kue kekuasaan.

    *Peneliti pada Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M), Jakarta
    Dikutip sepenuhnya dari http://www.unisosdem.org/ekopol_detail.php?aid=4168&coid=3&caid=22 yang dimuat cetak pada Kompas 24 Mei 2004 dan dapat dilihat versi digitalnya pada http://www.kompas.com/kompas-cetak/0405/22/opini/1035266.htm

    1 Comment

    1 Comment

    1. Gerry

      May 30, 2016 at 12:20 am

      Thanks for writing such an eau-tyo-snderstand article on this topic.

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top