Humor Gus Dur

Sop dan Sufi

©istimewa

©istimewa

Kisah ini diceritakan oleh K.H. Maman Imanulhaq Faqieh dalam buku Canda dan Fatwa Gus Dur.

Siang itu, aku tiba di PBNU pukul 13.17 WIB. Perjalananku dari Cirebon ke Jakarta memakai Kereta Api Cirebon Ekspress (Cireks), pukul 10.05 dari Stasiun Kejaksaan Cirebon dan sampai di Stasiun Gambir, tiga jam kemudian. Agendaku makan siang dengan Gus Dur dan sorenya bertemu Syeikh Hisyam di Permata Hijau.

Gus Dur menyapaku, “hai Kia, apa kabar? Naik apa dari Majalengka? Mana sup kikilnya?” Sapaan khas Gus Dur ini yang selalu membuat semua orang merasa dekat dengannya. Aku mencium tangannya. Seperti biasa aku mencoba menceritakan sesuatu yang lucu.

Aku bercerita seorang imam yang sudah sepuh membaca akhir surat al-kafirun berulang-ulang, “wa laa ana ‘aabidum maa abattum wa laa antum ‘aabiduum maa ‘abud…”

Seorang jemaah coba membantu, “lakum… lakum…”

Alih-alih membaca ayat yang benar, “lakum diinukum waa liya ad-ddin,” si imam malah membaca, “lakum diinukum wa laa adh-dhooliin.”

Semua jemaah refleks menjawab, “aamieen.” Gus Dur terbahak.

Setelah makan siang, Gus Dur bercerita suasana makan siang di sebuah restoran di Amerika.

Seorang ibu dari Indonesia ditanya, “do you like salad, Mom?”

Ditanya suka makanan “gado-gado” ala barat itu, si ibu dengan mantap dan sedikit riya’ (pamer dengan kesalehan) menjawab, “yes, five times a day!” Hahaha.

Setelah itu, Gus Dur dan K.H. Maman melanjutkan perjalanan menuju Permata Hijau. Mereka berdiskusi tentang ajaran-ajaran sufi. Mungkin karena yang akan dikunjungi adalah salah satu mursyid (guru) thariqoh naqshabandi al-haqqani. Gus Dur menjelaskan ajaran-ajaran yang ditanamkan para sufi. Diantaranya adalah ketakwaan, ketauhidan, keadilan, dan mustadhafin.

Tulisan ini diambil sepenuhnya dari Maman Imanulhaq Faqieh, Fatwa dan Canda Gus Dur, (Jakarta: Kompas Media Nusantara, 2010)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top