Celoteh Santri Gus Dur

1000 Jalan Mencintai Gus Dur

©istimewa

©istimewa

Oleh: Nasukha*

Suatu hari di awal tahun 2010, saya pulang kampung di daerah Banyumas, Jawa tengah. Sesaat setelah sampai di rumah, saya bertemu dengan tetangga yang kebetulan seorang yang aktif dalam jama’ah pengajian ibu-ibu. Dengan agak serius, ibu itu berkata, ”Mas, kiamat sudah dekat ya, kok banyak orang alim yang meninggal?”. Saya pun berujar, ”Siapa yang meninggal?”. Ibu itu menyebutkan salah seorang kyai lokal yang baru meninggal dan dengan tegas menyebut: ”Gus Dur”.

Hari itu saya merenung tentang Gus Dur sebagai seorang ulama yang mempunyai pengaruh kuat di masyarakat. Pada hari meninggalnya Gus Dur, saya menyaksikan sendiri seorang pengasuh pesantren di Yogyakarta mengibarkan bendera setengah tiang di halaman masjid selama 7 hari. Entah karena pengaruh instruksi presiden atau tidak, yang jelas ini memberikan kesan mendalam tentang penghormatan kyai tersebut kepada sosok Gus Dur.

Dua peristiwa di atas tiba-tiba muncul dalam memori mendekati peringatan 7 tahun meninggalnya Sang Guru Bangsa itu. Ingatan itu beriringan dengan banyaknya orang, organisasi lembaga yang mencoba meneruskan cita-cita Gus Dur. Gagasan Gus Dur layaknya gagasan orang hebat lainnya terus dikaji, didiskusikan dan disebarluaskan di berbagai tempat. Namun seperti halnya Gus Dur yang multi-talent, beragam pula cara orang untuk mengenalnya.

Barangkali Gus Dur merupakan salah satu manusia di negeri ini yang dikenal memiliki banyak sisi. Selain sebagai presiden Indonesia ke-4, Gus Dur adalah seorang ulama, kolumnis, politisi, aktifis dan pemikir Islam. Maka spektrum kehidupan kehidupannya dapat dilihat dari berbagai sudut pandang. Seseorang dapat menilainya sebagai cucu ulama besar yang menjadi ketua organisasi Islam terbesar di Indonesia. Ia juga bisa dilihat sebagai aktivis kemanusiaan yang getol memperjuangkan HAM, pluralisme, dan demokrasi. Selain itu, ia juga seorang tokoh politik dengan manuver dan komentar yang banyak dinantikan. Dalam hal ini, Gus Dur menjadi manusia super komplet yang membedakannya dengan banyak tokoh lain di negeri ini. Entah butuh puluhan atau ratusan tahun lagi, manusia seperti Gus Dur dapat lahir kembali.

Salah satu sisi Gus Dur yang sangat menonjol adalah kepemimpinannya di Nahdlatul Ulama. Hampir 14 tahun ia menjadi ketua di organisasi Islam terbesar di Indonesia bahkan di dunia. Selama itu, ia memiliki peran yang tak sedikit dalam lintas sejarah NU. Paling tidak ada 4 hal utama yang menjadi jasa Gus Dur pada saat memimpin NU. Pertama, Gus Dur bersama tokoh-tokoh muda NU pada tahun 1983 merumuskan formulasi kembali ke khittah. Dengan gagasan NU, NU kembali menjadi kekuatan civil society yang disegani. Kedua, Gus Dur menjadi simbol perlawanan NU terhadap rezim orba yang otoriter. Hal ini pula yang membawa Gus Dur menjadi tokoh demokrasi. Ketiga, pemikiran dan gagasan Gus Dur yang mampu menginspirasi anak muda NU untuk tampil progresif dan transformatif. Keempat, memperkenalkan dunia NU dan pesantren ke khalayak umum.

Sekompleks apapun peran pribadi seorang Gus Dur, ia tetaplah orang pesantren yang memimpin NU. Sehingga mayoritas masyarakat NU pasti akan menempatkan Gus Dur pada posisi yang sangat dihormati, yaitu seorang kyai, ulama. Sebagai kyai, Gus Dur adalah seorang alim yang ditunggu wejangan dan nasihatnya. Maka Gus Dur pun banyak berkeliling ke pelosok-pelosok untuk memberikan ceramah. Pengajiannya di daerah-daerah selalu dihadiri ribuan orang. Salah satu contoh, pada pertengahan tahun 2002, Gus Dur pernah berceramah di dekat dusunku. Saat itu ribuan orang hadir bahkan banyak anak-anak yang bolos sekolah demi bisa ikut pengajian.

Apalagi dalam diri Gus Dur mengalir darah biru kyai, sehingga posisi ini menempatkannya semakin dihormati oleh masyarakat NU. Tak mengherankan banyak orang yang mengakui Gus Dur sebagai wali, orang yang dikasihi Allah SWT. Tentu kita sudah sering mendengar tentang sebutan ‘wali Gus Dur’ yang dipopulerkan banyak orang juga tentang makamnya yang terus diziarahi orang setiap waktu.

Hal ini menegaskan posisi Gus Dur yang berada dalam hati banyak masyarakat apalagi warga NU. Kedekatan ini dengan jelas dapat dilihat saat Gus Dur dipaksa turun sebagai presiden oleh MPR, maka banyak masyarakat yang “berani mati” untuk membela Gus Dur. Meskipun pada akhirnya Gus Dur sendiri yang menolak pembelaan terhadap dirinya tersebut. Ekspresi orang-orang ini tentu tak berlebihan mengingat kecintaan dan penghormatan yang sedemikian tinggi kepadanya.

Dalam peringatan 1000 Hari wafatnya Gus Dur, KH. Mustofa Bisri menyampaikan bahwa para penerus Gus Dur dapat meniru Gus Dur dari sudut yang dipahaminya. Gus Dur bisa diteladani dari sikap kesederhanaannya, kecintaan terhadap ilmu atau tingkat kepercayaan dirinya yang sangat tinggi dalam menegakkan kebenaran. Masing-masing berhak meneladani Gus Dur semampunya.

Demikian halnya cara orang mencintai Gus Dur. Sudah mafhum bagi kita banyak politikus yang membawa platform nilai-nilai Gus Dur dalam berpolitik. Terlepas dari idealisme, tentu ini bagian dari cara mencintai Gus Dur. Ada yang rajin mengkaji, menulis dan menyebarkan gagasan Gus Dur dalam berbagai isu. Tentu tujuannya merawat gagasan tersebut agar tetap relevan sepanjang waktu. Sejumlah seniman menunjukan cinta kepada Gus Dur, dengan mengabadikannya dalam bentuk patung dan lukisan. Bahkan ada pula yang mengisahkannya dalam bentuk komik. Pun ada juga rajin menziarahi makamnya seraya berharap berkah dari kealimannya. Semua cara-cara tersebut adalah bentuk ekspresi kecintaan kepada Sang Guru Bangsa.

Sebagaimana ibu jamaah pengajian tadi yang mengaitkan meninggalnya Gus Dur dengan semakin dekatnya hari kiamat, maka banyak orang akan memiliki pandangan yang hampir sama, mengimajinasikan Gus Dur sebagai “khoriqul ‘adah”,’ ‘alim dan manusia luar biasa. Informasi yang saya dapatkan dari seorang kawan, beberapa pesantren di Cilacap -mungkin ditempat lain- memasukkan nama Gus Dur dalam susunan tawassul saat acara tahlilan. Hal-hal demikian juga merupakan bukti dan ekspresi kecintaan terhadap Gus Dur.

Mereka barangkali tidak mengenal tentang ‘pribumisasi Islam’, ‘pesantren sebagai sub-kultur’, ‘Islam sebagai komplementer’ dan elemen pemikiran Gus Dur lainnya, akan tetapi mereka mengaktualisasikan kecintaan kepada Gus Dur dengan caranya sendiri sesuai dengan pemahaman masing-masing.

Dengan demikian, kecintaan terhadap Gus Dur tidak hanya milik orang, organisasi, lembaga atau partai tertentu. Cinta kepadanya adalah cinta berbagai manusia dengan beragam warna yang merasa kehilangan setelah kepergiannya. Cinta itu diekspresikan dalam berbagai cara, dengan 1000 jalan. Lahu Alfatihah..

 

 

Nasukha. Penulis adalah Ketua PC IPNU Yogyakarta 2012-2014; pendidik di Bengkulu

Tulisan ini diambil sepenuhnya dari http://www.nu.or.id/post/read/74194/1000-jalan-mencintai-gus-dur

1 Comment

1 Comment

  1. Pingback: Artikel 1000 Jalan Mencintai Gus Dur | KumpulanOpini.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top