Celoteh Santri Gus Dur

Gus Dur dan Sikapnya Terhadap Teroris

Oleh: Goes Poer

Di awal tahun 2016, Indonesia kembali dikejutkan oleh ulah beberapa orang Islam yang menurut keterangan pihak berwenang mereka berafiliasi dengan organisasi ekstrimis Islam, ISIS, dengan melakukan keonaran di jantung ibukota. Hal ini juga diperkuat dengan pengakuan dari pihak ISIS beberapa jam kemudian setelah peledakan di Sarinah tersebut.

Mereka memunculkan teror dengan melakukan penembakan dan bom bunuh diri di sekitar jalan Thamrin. Dengan berbagai pemberitaan yang simpang siur, dua hari kemudian terkonfirmasi bahwa korban meninggal dari tragedi tersebut berjumlah delapan orang. Empat dari terduga pelaku teror dan empatnya lagi warga sipil, yang salah satunya adalah warga negara Kanada.

Setelah melewati prosedur yang berlaku, dua  dari korban tragedi bom Sarinah tersebut sudah diambil oleh keluarganya masing-masing untuk dimakamkan sebagaimana mestinya. Sedangkan empat terduga pelaku bom Sarinah dan satu WNA masih disemayamkan di rumah sakit POLRI.

Meskipun belum dibawa pulang oleh keluarganya masing-masing, di masyarakat sudah berkembang kabar akan adanya penolakan dari warga, jika salah satu dari para terduga teroris tersebut akan dimakamkan di kampung para terduga teroris tersebut berasal.

Lihat: http://singindo.com/2016/01/17/ingin-dimakamkan-di-subang-jasad-afif-teroris-bertopi-jalan-thamrin-ditolak-warga/

Hal ini memang bukan hal yang baru, setidaknya dalam rentang waktu lima tahun terakhir terjadi penolakan serupa terhadap terduga teroris yang telah mati, jika ingin dikuburkan di kampungnya masing-masing.

Sikap Gus Dur

Penolakan demi penolakan tersebut seakan telah menjadi permakluman oleh publik, bahwa seorang teroris memang pantas diperlakukan seperti itu. Sudah tepatkah perlakuan tersebut? Untuk lebih jelasnya marilah sejenak membaca petuah seorang tokoh bangsa yang dikenal sebagai Bapak Pluralisme, karena sikapnya yang konsisten terhadap pembelaan hak-hak kaum tertindas.

Tokoh yang istiqomah menolak Islam dijadikan sebagai ideologi negara karena akan sangat rentan untuk dipolitisasi dan dimanfaatkan untuk kepentingan sekelompok orang saja. Syariat Islam cukup menjadi ruh dalam kehidupan sehari-hari umat Islam. Jika diformalkan maka akan cenderung menjadi alat politik semata.

Gus Dur juga menolak cara-cara kekerasan yang dilakukan oleh para teroris untuk memperjuangkan tegaknya syariat Islam. Pernah suatu hari Gus Dur menjawab pertanyaan seorang wartawan yang menanyakan tentang kebenaran bahwa para teroris yang mati dalam aksinya tersebut apakah benar akan masuk surga dan bertemu bidadari?

Gus Dur menjawab, memangnya sudah ada yang membuktikan? Tentu saja belum kan? Ulama’ maupun teroris belum pernah masuk surga, yang jelas para teroris tersebut bukan mati syahid tapi mati sangit (gosong kepanggang api). Kalaupun mereka masuk surga mereka akan menyesal karena kepalanya tertinggal di dunia dan ditahan oleh polisi sebagai barang bukti. (Islahuddin, Gus Dur Menertawakan NU, hlm. 102).

Pada tahun 2006, Gus Dur diundang oleh menteri pertahanan AS untuk mengisi seminar dengan tema “Cara-Cara Menghadapi Muslim Radikal” di Colorado, AS. Namun karena alasan kesehatan Gus Dur tidak bisa menghadiri acara tersebut, akan tetapi bukan berarti pemikiran Gus Dur absen dari acara tersebut.

Melalui video, Gus Dur menyampaikan materinya yang berdurasi sekitar tujuh menit. Dalam pidato tersebut, beliau menegaskan bagaimana cara untuk menghadapi kaum muslim fundamentalis. Usulan Gus Dur waktu itu adalah orang-orang fundamentalis ini tidak dihadapi tapi diajak berdialog diajak ngomong, kenapa?

Karena kalau kita hadapi, itu artinya kita harus menganggap mereka ghoiru muslim, dan itu tidak bisa. Sesuai dengan hadits Nabi, “Tidak bisa orang itu dianggap keluar Islam, tidak ada keluar dari Islam hanya dengan perbedaan perspektif”. Jadi dengan demikian saya tidak bisa menganggap mereka itu orang lain.

Yang patut kita tentang itu bukan orangnya, melainkan tindakannya. Tindakan itu ditentang dengan hukuman. Selesai dihukum ya sudah, keluar. Nanti neror lagi. Tangkap lagi. Diadili lagi. Sikap seperti inilah yang seharusnya kita perhatikan dan lakukan. Kita jangan merasa benar sendiri lalu orang lain salah semua, itu tidak boleh. (menit 36-42 pengajian Gus Dur di Kalipucang, Jepara) untuk lebih lengkapnya silakan disimak videonya.

Berdasarkan yang disampaikan Gus Dur tersebut, penulis berpendapat bahwa kurang tepat menolak raga para teroris yang tak mungkin mampu melakukan tindakan-tindakan melanggar hukum lagi. Apalagi jika mereka sejak kecil dilahirkan dan dibesarkan di kampung tersebut. Bagaimana perasaan istri dan anak-anaknya yang mungkin juga mereka tidak tahu apa yang telah dilakukan oleh para teroris tersebut? Bukankah sikap seperti itu akan berpotensi untuk menyulut dendam dari anaknya karena merasa diperlakukan tidak adil. Meskipun seseorang telah meninggal, sebaiknya ada cara-cara lain sebagai tindakan preventif untuk mencegah timbulnya hal-hal yang saya khawatirkan tersebut.

Memperlakukan mayat sebagaimana umumnya dan memperlakukan keluarganya dengan baik sambil pelan-pelan menyadarkan bahwa tindakan yang telah dilakukan oleh para teroris tersebut salah dan harus dijauhi, itu saya pikir hal yang tepat. Bukan malah mengasingkan dan mengucilkan keluarganya, yang pada akhirnya nanti akan bertemu dengan yang senasib atau dimanfaatkan oleh orang-orang tertentu yang pada akhirnya mereka mengulangi hal-hal yang serupa.

Di atas sekat-sekat identitas, Gus Dur selalu memperlakukan manusia selayaknya manusia. Dan kemanusiaan merupakan salah satu dari sembilan prinsip-prinsip perjuangan Gus Dur. Demikian sedikit penafsiran penulis terhadap samudera ilmu dan hikmah dari guru kita. Semoga beliau selalu menginspirasi laku dan tindakan kita. Wallahhu a’lam

Goes Poer. Penulis adalah penggerak Komunitas Gusdurian Yogyakarta

Sumber:

http://www.kompasiana.com/pur_wanto/gus-dur-membela-teroris_569bbbae1197732a09c05cc0

1 Comment

1 Comment

  1. Pingback: Artikel Gus Dur dan Sikapnya Terhadap Teroris | KumpulanOpini.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top