Review Buku

Rakyat Gelisah, Gus Dur Menjawab

Oleh: Tiead Adhika Gilham*

Kegelisahan adalah suatu hal yang wajar dialami oleh manusia Indonesia. Apalagi melihat realitas saat ini, terlalu banyak masalah namun minim solusi. Ketika almarhum KH. Abdurrahman Wahid masih hidup, banyak kegelisahan yang terjadi di dalam kehidupan sehari-hari yang ditumpahkannya dalam sebuah tulisan reflektif.

Sebelum mengarah kepada ulasan terkait buku Gus dur Menjawab Kegelisahan Rakyat, saya ingin sedikit share terkait kesempatan yang telah saya ikuti ketika mengiktui Sekolah Pemikiran Gus Dur. Kesan yang saya dapat adalah antusiasme peserta yang secara aktif berpartisipasi memperhatikan dan memberikan gagasannya terkait perjuangan Gus Dur terhadap kehidupan beragama, berbangsa dan bernegara. Hal ini menjadi berkesan karena peristiwa tersebut memberikan pesan tersendiri bagi pribadi saya.

Pesan yang sudah layak dan sepantasnya untuk dilaksanakan diri saya dan para penentu bangsa dengan menjunjung tinggi nilai-nilai Pancasila. Senang rasanya melihat teman-teman semua yang peduli terhadap nasib bangsa dan negara ini, terlihat ada harapan baru dari diri teman-teman untuk Indonesia yang lebih keren. Melalui peristiwa ini juga berpesan agar kita dalam menjalani kehidupan terus semangat seperti halnya Gus Dur yang telah meneladani kita.

Berikut akan saya bagikan beberapa hal yang saya pahami dan yang saya dapatkan setelah membaca buku “Gus Dur Menjawab Kegelisahan Rakyat”. Berikut ini beberapa pemahaman yang dapat saya bagikan.

Pada bab Agama dan Kekuasaan, ada dua hal yang menarik perhatian saya, yaitu pertama, pernyataan Gus Dur yang mengedepankan pendekatan kultural yang didasarkan pada alternatif dan mengutamakan kebersihan perilaku di bidang pemerintahan serta penciptaan sistem politik yang bersih. Kata “bersih” yang disampaikan oleh Gus Dur menimbulkan banyak pertanyaan bagi saya. Apa yang dimaksud bersih? Mengapa harus bersih? dan Apa relevansinya terhadap realitas yang terjadi?

Perlahan saya mengurai pertanyaan-pertanyaan yang muncul dalam diri saya dan saya memberanikan menarik sebuah pemahaman terkait kata “bersih” yang dimaksud oleh Gus Dur. Kata bersih ini jika direfleksikan lebih mendalam sangat mendasar maknanya terkait kehidupan beragama, berbangsa dan bernegara. Bersih merupakan sebuah kondisi yang nyaman dan aman serta menyenangkan bagi individu maupun sekelompok orang.

Maka dari itu, untuk menciptakan kondisi yang bersih maka diperlukan tindakan/perilaku yang konkret sebagai sarana untuk mencapai tujuan “bonum comune” atau kesejahteraan bersama. Jadi sejatinya pemerintah, organisasi masyarakat dan masyarakat diajak untuk bersinergi dan setia terhadap perilaku yang bersih (rendah hati, tegas, menghargai seseorang dan konsisten) untuk menjadi masyarakat Pancasila dan secara otomatis akan terwujudlah suasana yang sejahtera. Demikian gagasan Gus Dur yang perlu kita wujudkan bersama.

Kedua, yang menarik bagi saya, yakni terkait tulisan Gus Dur yang berjudul “Birokratisasi Gerakan Islam”. Dalam tulisan itu terdapat kritikan beliau terkait pernyataan semacam “ …Pesantren kami melarat karena tidak dapat bantuan dari oleh pemda.”. Beliau merasa pilu hati karena mulai terkikisnya tradisi masa lampau yang tetap berdiri kokoh meski berhadapan dengan pemerintahan kolonial yang secara finansial kokoh keuangannya. Kritikan yang muncul dari beliau menurut saya ada kesamaan dengan konsep Berdikarinya (berdiri di atas kaki sendiri) Bung Karno. Gus Dur dalam hal ini menurut saya menekankan kemandirian suatu pesantren terhadap kelangsungan kehidupannya dengan segala kemampuan yang dimiliki.

Melalui tulisan tersebut saya merasa diajak untuk mandiri terhadap permasalahan yang dihadapi setiap harinya (misal dalam berorganisasi maupun tugas pribadi) dan secara proaktif mencapai tujuan tanpa meninggalkan idealisme yang dimiliki. Saat ini memang telah banyak orang yang di dalam kehidupannya tidak bisa mandiri, masih ada ketergantungan dengan orang lain, dalam arti, memang kehidupan itu membutuhkan orang lain, akan tetapi jangan sampai ketika tidak ada bantuan materi misalnya, kemudian kita tidak bisa berjalan (mandeg/stagnan). Itulah kehidupan yang tidak produktif. Kita mesti harus bisa berdiri dengan kuat dengan kemampuan kita.

Tulisan-tulisan pada bab Kepemimpinan ini merupakan gambaran metode kepemimpinan yang dilakukan Gus Dur dalam hidup berbangsa dan bernegara. Ada dua hal yang menarik bagi saya terkait bab Kepemimpinan ini, diantaranya: pertama adalah tulisan yang berjudul “Contenaccio Hanyalah Alat Belaka”, menurut saya, mengajak untuk setia dan proaktif dalam menjalani kehidupan berbangsa dan bernegara dengan berbagai metode yang tidak kaku melainkan lebih lihai dalam menyiasati permasalahan yang muncul sehari-hari. Terlebih dalam proses demokrasi, siasat ini sangat dibutuhkan untuk mencapai cita-cita Kemerdekaan Indonesia, maka hendaknya pemerintah dan juga masyarakat bersinergi dalam pelaksanaannya.

Tulisan Kedua yang berjudul “Jawaban Presiden Atas Memorandum DPR” sangat menarik, karena banyak menyuguhkan berbagai intrik yang dilakukan DPR yang menciderai konstitusi dengan melanggar berbagai haluan negara seperti dikeluarkannya memorandum yang tidak sesuai dengan Tap MPR no III/MPR/1978. Melalui peristiwa ini menunjukan bahwa perlunya ketegasan dalam menangani permasalahan ini oleh pihak yang memiliki wewenang, karena jika dibiarkan akan menjadi tradisi yang tak berkesudahan dan akan mengikis nilai-nilai Pancasila.

Selain itu muncul pertanyaan dari saya, mengapa Gus Dur yang saat itu menjadi presiden dan memiliki kewenangan tidak bertindak tegas terhadap pelanggaran yang dilakukan DPR terkait dikeluarkannya memorandum untuk presiden? Itulah pertanyaan yang saya sendiri belum bisa menjawabnya. Mungkin bagi pembaca ada yang mampu mengkritisi pertanyaan saya itu. Karena membaca Gus Dur memang tidak selesai pada tulisan-tulisannya saja, akan tetapi kita juga dituntut untuk pandai membaca situasi ketika Gus Dur merefleksikan tulisannya. Sehingga pandangan komprehensif dapat kita temukan dari sosok yang unik tersebut.

*Penulis adalah alumni Sekolah Pemikiran Gus Dur II

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top