Review Buku

Pemikiran Gus Dur Memang Gila

Oleh: Haris Surya*

Prisma yang dalam pelajaran matematika berarti bangun ruang tiga dimensi yang dibatasi oleh alas dan tutup yang identik berbentuk segi-tiga. Ada juga sisi-sisi tegak berbentuk persegi atau persegi panjang, Namun pertanyaannya, apakah pemikiran Gus Dur berbentuk seperti itu? rupanya tidak. Kata Prisma yang diambil menjadi judul buku ini ternyata adalah judul sebuah jurnal Pembangunan Ekonomi, Perkembangan Sosial dan Perubahan–perubahan Budaya di Indonesia yang terbit pertama kali bulan November 1971.

Prisma menjadi jurnal ilmu sosial yang berpengaruh di tahun 70 hingga 80an, yang menjadi pertarungan para intelektual serta cendekiawan. Dari sekian banyak intelektual dan cendekiawan pada waktu itu yang tulisannya dimuat di jurnal Prisma, Abdurrahman Wahid atau akrab di panggil Gus Dur adalah salah satunya. Tulisan- tulisan tersebut kemudian dikumpukan kembali dan disusun menjadi sebuah buku dengan tebal hampir 250 halaman yang berisi tujuh belas tulisan.

Gus Dur banyak menulis tentang dinamika agama, ideologi, negara dan pembangunan. Gus Dur menilai bahwa di Indonesia dan bahkan di negara berkembang pada khususnya, pertentangan antara ideologi yang dianggap sekuler dan ideologi agama yang dibawa oleh gerakan keagamaaan sangat banyak ditemui. Di negara-negara yang sedang berkembang, permasalahan ini sering muncul dikarenakan kebanyakan negara berkembang masih mencari konsep negara yang tepat untuk bisa memajukan negara serta menyejahterakan rakyatnya.

Proses pencarian konsep ini, kebanyakan menjadi ajang pertarungan gerakan ideologi dan gerakan keagamaan yang saling merasa paling tepat pemahaman nya untuk diterapkan di negara tersebut. Pertentangan demi pertentangan yang terus berlangsung acap kali menemui jalan buntu untuk dipersatukan. Bahkan di sebagian negara, pertentangan tersebut menjadi awal perang saudara yang banyak merenggut korban. Sampai saat ini di Salvador, Meksiko, Maroko, Tunisia, Malaysia, Bangladesh, Indonesia sendiri serta masih banyak yang lainnya, perdebatan dan pertentangan ini belum bisa menemui titik temu.

Dalam buku ini, Gus Dur memberikan pandangan bahwa masih besarnya kesenjangan antara ideologi negara dan keyakinan agama yang diperjuangkan oleh sebagian masyarakat timbul akibat belum mantapnya kedudukan idelogi negara itu sendiri. Kesalahpahaman sangat besar antara pihak penanggung jawab ideologi Negara dan pemimpin-pemimpin gerakan keagamaaan menjadi penyebab berikutnya. Namun Gus Dur memberikan contoh berikut nya mengenai jalinan ajaran agama dan keyakinan ideologi Marxis-Leninis di beberapa negara berkembang, seperti di beberapa gerakan Katolik di Filipina dan Amerika Latin, kemudian gerakan Aria Samaj di kalangan beragama Hindu di negara bagian Haryana, India.

Di akhir bab pertama buku ini dengan judul “Agama, Ideologi dan Pembangunan” salah satu kesimpulan Gus Dur tentang contoh-contoh diatas adalah orientasi sangat kuat untuk merealisasi aspirasi dalam program kerja aktual dalam bentuk skala mikro di tingkat bawah, terutma di kalangan gerakan-gerakan keagamaan yang memilih pencarian alternatif bagi struktur pemerintahan yang ada. Orientasi tersebut menjadi penghubung aspirasi keagamaan dan non-keagamaan. Dan Retorika Marxistsis para Mullah di Iran untuk menentang bekas Syah Reza Pahlevi adalah juga merupakan salah satu bukti yang tepat untuk dikemukakan untuk kesimpulan tersebut.

Dalam tulisannya yang diberi judul “Penafsiran Kembali Ajaran Agama: Dua Kasus dari Jombang”, Gus Dur memberikan pendapat bahwa salah jika seseorang menganggap agama adalah penghambat perubahan. Karena dapat diingat bahwa perubahan-perubahan (bukan hanya perubahan politik) di dunia terkandung semangat agama di dalamnya. Dan dari dua kasus lokal di Jombang tersebut, Gus Dur memberikan pandangan bahwa pemahaman ajaran-ajaran agama akan terus menerus mengalami pembaruan ssuai dengan aspirasi yang terus berkembang di kalangan masyarakat yang memeluknya.

Berikutnya Gus Dur juga menilai bahwa agama mulai diberikan tempat oleh para penganut ideologi revolusioner yang dulu sangat mencurigai agama. Dan di sisi lain banyak aspek dari ideologi revolusioner, minimal dalam semangat dan pengetahuannya yang menjadi kekuatan dalam gerakan-gerakan masyarakat yang bermotifkan agama. Pendapat-pendapat Gus Dur tentang keterkaitan ini dituangkan dalam artikel berjudul “Republik Bumi di Sorga : Sisi Lain Motif Keagamaan di Kalangan Gerakan Masyarakat”.

Dalam buku ini, lewat tulisan yang berjudul “Mahdiisme dan Protes Sosial” Gus Dur menuangkan keyakinannya bahwa gerakan keagamaan bersifat mesianistik yang merupakan salah satu gerakan keagamaan yang sering dianggap berwatak kekerasan dapat menjadi pelopor pembangunan jika gerakan ini dapat “dimasyarakatkan”. Keyakinan Gus Dur ini begitu tinggi karena Gus Dur melihat bahwa mereka yang mengikuti gerakan ini mempunyai tujuan hidup yang jelas serta keberaniannya dalam berkorban serta selalu mencari hal yang baru adalah kunci yang dibutuhkan dalam pembangunan.

Beberapa tulisan dalam buku ini mungkin terasa berbeda jika kita sudah membaca keseluruhan buku, hal ini dikarenakan beberapa tulisan seperti “Pesantren, Pendidikan Elitis atau Populis ?”, bukan merupakan tulisan langsung dari Gus Dur, namun merupakan hasil olahan dari wawancara yang dilakukan oleh redaksi Prisma. Begitu pula yang ada dalam tulisan “Jangan Paksakan Paradigma Luar terhadap Agama”, “Persaingan di Bawah Justru Lebih Hebat”, dan “Intelektual di Tengah Eksklusivisme” gaya bahasa yang berbeda begitu tampak, tetapi tidak mengurangi renyah dan nikmat nya buku ini jika dibaca dengan segelas kopi pahit dibawah belaian hujan.

Walaupun buku ini hanya berisi beberapa tulisan Gus Dur yang dimuat di jurnal Prisma, yang tentu saja tidak bisa menggambarkan sepenuhnya pemikiran Gus Dur tentang agama, ideologi, negara dan pembangunan. Namun seperti judul buku ini, yaitu Prisma, yang dalam bidang optik berarti alat yang dipakai untuk merefleksikan cahaya untuk memisahkannya menjadi spektrum warna pelangi, buku ini adalah jawaban dari refleksi pandangan dan pemikiran Gus Dur.

Setelah membaca buku ini serta tulisan Gus Dur yang tersebar di berbagai majalah, Koran dan tulisan-tulisan yang sudah dikumpulkan menjadi sebuah buku, kita bisa mulai mengetahui mengapa pemikirian-pemikiran Gus Dur sering kontroversial dan hingga banyak yang menyebut Gus Dur adalah “Orang Gila”. Namun jangan terkejut pula jika setelah membaca tulisan-tulisannya, mendengar cerita dari orang-orang dekatnya tentang tingkah laku, humor serta pemikiran Gus Dur kemudian kita berkata, “ Gus Dur memang gila… ”

*penulis adalah alumni Kelas Pemikiran Gus Dur II

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top