Celoteh Santri Gus Dur

Memanusiakan Manusia: Ajaran Kanjeng Nabi

Oleh: Rifqi Rafiq.

Belakangan ini, saya sering melihat bentangan spanduk di berbagai sudut kota Yogyakarta yang bertuliskan “Syi’ah bukanlah Islam”, “Syi’ah sesat”, “Syi’ah mengancam NKRI”, dan sebagainya. Sebagai orang awam, saya hanya bisa ngelus dada. Umat Islam seperti diaduk-aduk, akibat banyak provokasi yang berisikan kebencian terhadap kelompok lain. Saya prihatin, sebab provokasi spanduk yang terpampang begitu menyolok, bisa menyulut api perseteruan, sebagaimana yang terjadi di kompleks perumahannya ustadz Arifin Ilham beberapa waktu yang lalu.

Yang membuat saya lebih prihatin, di mana bapak polisi atau Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) yang katanya biasa ikut menjaga stabilitas kerukunan di tengah-tengah kita? Karena spanduk-spanduk yang tersebar itu—kalau dipampang secara umum—biasanya mendapat periijinanan. Kalau ihwal itu diijinkan berarti ketegangan di tengah-tengah kita sengaja dipelihara. Begitu su’udzon hasanah saya mengenai hal ini. Dan saya berdo’a, semoga ketegangan-ketegangan seperti ini akan segera usai.

Sepertihalnya pepatah orang Jawa, ora elok. Istilah ora, atau kurang elok bukan semata-mata perkara benar atau salah. Bisa jadi benar, hanya saja kurang sedap dipandang. Dulu, sewaktu di pesantren, saya pernah belajar kitab grammar Arab Jurumiyah. Di dalam kitab itu dijelaskan bahwa kalam atau kalimat mempunyai syarat-syarat yang harus dipenuhi. Salah satunya mempunyai unsur “mufid”, yakni mempunyai faedah, untuk memahamkan, atau memberi informasi bagi orang lain. Dengan demikian, kata-kalimat yang keluar dari lisan kita tidak benar-benar merdeka dari interaksi kita dengan orang lain. Kata-kata yang keluar dari kita sedikit-banyaknya pasti akan mempengaruhi pikiran, maupun perbuatan orang lain.

Sebagai muslim, kita diperintah untuk sangat menjaga sikap dalam bertutur. Bahkan dalam mbatin prasangka kita terhadap orang lain. Boleh saja kita tidak cocok secara prinsip dengan orang lain, tapi bukan kemudian menggembar-gemborkan ketidaksukaan kita kepada khalayak ramai bahwa kita tidak suka dengan mereka.

Kitab suci al-Qur’an sudah mewanti-wanti jangan sampai kita terseret perilaku tidak adil hanya karena tidak suka kepada satu golongan. “Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa.” (QS 5 : ayat 9).

Dengan sederhana, saya membayangkan tentang statemen, Syi’ah bukan Islam atau Syi’ah mengganggu NKRI, kelompok ini sesat, kelompok ini harus dibasmi dari NKRI. Bagaimanapun kalimat tersebut kemudian mempengaruhi perilaku, pola pikir dan opini masyarakat umum. Pada akhirnya, kita harus bertanggungjawab atas apa yang kita keluarkan dari pernyataan itu kepada publik.

Saya jadi teringat dengan nasehat Kiai saya, tentang memaknai ayat ud’uu ilaa sabiili Rabbika bil-hikmah, wa mau’idhati hasanah, wa jaadilhum bi al-latii hiya ahsan. Di ayat ini, jika kita cermati, tidak ada maf’ul-nya, atau tidak ada objek yang diperintah. Lantas, siapa yang diajak, kalau begitu?

Ketika terdapat kata perintah “ajaklah ke jalan Tuhanmu”, maka objeknya tentu adalah “mereka yang tidak di jalan Tuhanmu”. Ketika anda mengajak seseorang untuk naik bus misalnya, maka anda sudah pasti akan mengajak orang yang belum naik bus, atau yang ada di luar bus. Maka ajakan di ayat tersebut adalah bagi mereka yang kita anggap di luar ‘bus’ Tuhan.

Oleh karenanya, jika memang saudara-saudara Syi’ah diasumsikan tidak di jalan Tuhan, maka ajaklah mereka dengan hikmah, nasehat yang baik, atau debatlah dengan cara dan argumen yang baik. Bukan dengan nasehat dan perkataan di sudut-sudut jalanan yang provokatif nan menyakitkan. Dalam mencermati fenomena tentang Syi’ah ini, tidak perlu memaksakan aqidah atau apa yang kita yakini kepada mereka. Karena saya yakin masing-masing aliran sudah demikian fanatik dan memegang teguh ajaran masing-masing.

Memanusiakan manusia      

Kekhawatiran seperti ini, sepertinya sudah diprediksi oleh Kanjeng Nabi Muhammad SAW. Di mana menjelang wafatnya beliau, yang dikhawatirkan olehnya bukanlah keadaan dirinya yang mendekati ajal. Tetapi, umatnya; “ummati..ummati..ummati..” bagaimana nanti kondisi umatku, wahai umatku, umatku. Begitu cerita dalam Sirah Nabawi yang sering saya dengar dan baca.

Sebab itu, kalau kita memang mengaku sebagai umatnya Nabi Muhammad SAW harus bisa meniru akhlaknya yang “memanusiakan manusia”. Sebab, titik temu di antara sekian perseteruan di tengah-tengah kita tak lain adalah bahwa kita harus menyadari kalau kita ini sama-sama manusia. Kita sama-sama umat Islam. Dan dari ajaran manapun, saya kira tidak dibenarkan untuk mengolok manusia lain. Ketika anda tidak ingin dipukul, maka jangan memukul. Ketika saya tidak ingin dicela, maka saya sebisa mungkin untuk tidak mencela yang lain.

Karena ketika melihat sesama Islam berseteru, ada yang bertepuktangan di luar sana. Saat umat saling mencela dan mengolok-olok, ada yang bilang: “eh, lihat! Itu umat Islam pada olok-olokan sendiri!” dan tertawa di luar sana.

Dan ketika melihat sesama muslim saling berseteru, Saya sama sekali tidak bangga. Karena di situ saya merasa sedih.

 

Wallahu a’lam bis-shawab.

Yogyakarta, 28 Februari 2015.

Penulis adalah seorang muslim, masih ngangsu kawruh di UGM.

*Tulisan ini dimuat di buletin Santri oleh Jaringan Gusdurian Yogyakarta

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top