Gus Dur dalam Pena

Gusdur dan Pribumisasi Islam

Oleh: Akhmad Sahal

“Islam datang bukan untuk mengubah budaya leluhur kita jadi budaya Arab. Bukan untuk aku jadi ana, sampeyan jadi antum, sedelur jadi akh. Kita pertahankan milik kita, kita harus filtrasi budayanya, tapi bukan ajarannya…” (Gusdur)

Beberapa waktu lalu saya tweet meme bergambar Gusdur dengan pernyataan di atas. Ada banyak tanggapan dari Meme Gusdur yang saya share di twitter. Sejumlah tanggapan tersebut mengesankan bahwa meme tersebut menunjukkan bahwa Gusdur anti budaya Arab. Kesan itu keliru sama sekali menurut saya.

Dengan menyebut Islam datang bukan untuk mengganti budaya kita dengan budaya Arab, tak lantas Gusdur menyerukan sikap menolak budaya Arab. Gusdur hanya mengatakan, budaya Arab itu ya budaya, sama seperti budaya-budaya lain di dunia. Tak identik dengan Islam. Artinya, Anda tak lantas lebih Islami hanya karena telah berjubah, bersorban, atau pake antum, akhi, milad, ahad dalam keseharian. Dan perilaku seperti itu hanya meng-Arab.

Tentu saja mengadopsi budaya Arab boleh-boleh saja. Gusdur pun memiliki nama Arab, menempuh pendidikan, dan bersekolah di Timur tengah.

Namun, pernyataan Gusdur menegaskan kembali bahwa Arab tidak sama dengan Islam. Misalnya, Nabi jelas Arab, tetapi memiliki musuh yang juga berasal dari Arab. Abu Jahal dan Abu Lahab juga bersurban dan berjubah; begitu pula bercakap dengan kosa kata Arab seperti ana dan antum.

Lantas, bagaimana kita memposisikan relasi antara Islam dan Arab? Bagaimana memahami hubungan keduanya?

Di satu sisi, Islam lahir di Arab, Nabi dan kitabnya Arab. Namun, Islam bersifat shalihun li kulli zaman wa makan.Artinya kira-kira adalah “relevan untuk segala zaman dan tempat”. Dalam konteks pernyataan Gusdur tadi, Gusdur tampil dengan idenya yang masyhur: “Pribumisasi Islam,” keislaman yang mengakomodasi dan dapat diserap budaya lokal.

Sayangnya, Pribumisasi Islam seringkali direduksi dengan contoh yang kemudian menjadi kontroversial, misalnya Gusdur mengganti “Assalamualaikum” dengan selamat pagi. Contoh itu mereduksi poin utama Gusdur bahwa universalisme Islam mesti ditampilkan dalam ekspresi-ekspresi kultural setempat.

Gusdur menjelaskannya dlm tulisannya yang lain: “Universalisme dan kosmopolitanisme Islam”. Dalam artikel tersebut, Gusdur menyatakan, Islam mengandung dimensi ajarannya yang universal: jaminan dasar. Sebuah jaminan yang diberikan oleh agama samawi terhadap keselamatan warga baik sebagai individu maupun kelompok.

Jaminan keselamatan tersebut terdiri dari keselamatan fisik, keyakinan/agama, harta, keluarga/keturunan, dan profesi. Jaminan keselamatan terhadap 5 elemen itulah yang disebut sebagai “tujuan syariah”. Dan itu universal, selalu relevan di manapun kapanpun.

Namun, selain dimensi universal, Islam juga tampil sebagai peradaban yang kosmopolit, terbuka terhadap akuluturasi dan adopsi budaya lain. Prinsip-prinsip universal Islam tersebut menurut Gusdur selalu ditampilkan dalam ekspresi sistem dan budaya yang beragam. Hal ini kemudian memperkaya peradaban Islam.

Kemudian, perwujudan prinsip-prinsip universal Islam dalam konteks budaya tertentu itulah yang disebut Gusdur sebagai pribumisasi. Pribumisasi Islam di Indonesia bisa berbeda hasilnya dengan Pribumisasi Islam di Arab karena konteksnya berbeda. Pribumisasi Islam zaman sekarang bisa berbeda dengan Pribumisasi Islam zaman pramodern, lagi-lagi karena konteks sejarahnya berbeda.

Sebenarnya tak hanya cucu pendiri NU yg menyerukan Pribumisasi Islam. Cucu pendiri Ikhwanul Muslimin juga sama. Tariq Ramadan, cucu Hasan Al Banna, yang tinggal di Eropa menyerukan pentingnya “Islam Eropa”. Simak misalnya wawancara Tariq Ramadan ini: “We Are Europeans”.

Sebagaimana Gusdur menegaskan wajah “Islam Indonesia” untuk muslim Indonesia, Tariq Ramadan menekankan “Islam Eropa” untuk muslim Eropa. Muslim Eropa pada dasarnya adalah warga Eropa yang beragama Islam, bukan muslim yang kebetulan di Eropa.

Implikasinya, muslim Eropa dituntut menjadi muslim yang baik. Pada saat yang sama juga harus menjadi warga negara yang loyal kepada negaranya. Bagi Tariq Ramadan, kesetiaan terhadap Islam tak lantas merusak loyalitas terhadap negara dan kultur lokal di mana muslim Eropa tinggal.

Pribumisasi Islam Gusdur juga muaranya sama: kesetiaan terhadap Islam, loyalitas terhadap NKRI, dan merawat budaya sendiri harus jalan beriringan. Dalam tingkat tertentu, sikap Gusdur tersebut mendapat penjelasan fiqhiyahnya dari Mbah Sahal Mahfudz dengan fiqh baru-nya. Tentang Kiai Sahal dan pandangannya terhadap fiqh sosial dan NKRI dapat simak kultwit saya.

Kembali ke “Islam dan Budaya Arab”, pernyataan Gusdur di awal adalah penegasan tentang pentingnya penerjemahan universalisme Islam dlm kontkes setempat. Dan itu artinya penegasan tentang Islam Indonesia untuk kaum muslim Indonesia, bukan Islam Arab. Hanya dengan cara itulah justru terbukti Islam itu shalih li kulli zaman wa makan, relevan untuk setiap masa dan tempat.

Sumber: https://www.selasar.com/budaya/gusdur-dan-pribumisasi-islam

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top